Waktu pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, saya kira kehidupan di sini akan seperti yang ada di anime, penuh bunga sakura, kuil-kuil kuno, dan suasana damai. Itu memang benar. Tapi setelah sebulan tinggal, saya menyadari satu hal yang tidak saya siapkan yaitu dengkul.
Tepatnya, dengkul saya yang belum pernah diajak olahraga berat tiba-tiba dipaksa bekerja seperti atlet. Bayangkan, dalam sehari bisa jalan kaki lebih dari 10.000 langkah, hanya untuk rutinitas sederhana: berpindah dari stasiun ke stasiun ataupun belanja. Rasanya, dengkul menuntut gaji harian.
Di Jepang, jalan kaki dan naik sepeda bukan cuma gaya hidup sehat. Ini kebutuhan. Kalau tidak punya mobil seperti saya di sini tanpa SIM dan tanpa kendaraan, maka satu-satunya yang bisa andalkan adalah kaki dan pedal.
Tentu ada transportasi umum, tapi… tetap saja, jalan kaki itu tak terhindarkan. Ke masjid 2,5 km. Belanja ke supermarket bisa sampai 5 km. Harus kuat mengayuh sepeda menanjak karena jalanan tidak selalu datar.
Tidak ada Gojek maupun Grab yang bisa jemput di depan rumah persis dan antar sesuai titik. Tiap kali ke suatu destinasi, pasti ada unsur jalan kakinya. Tidak heran, orang berjalan sendirian bukanlah hal yang aneh atau perlu ditawari tumpangan.
Yang lebih menarik, ini bukan cuma nasib saya sebagai pendatang. Orang Jepang sendiri sangat terbiasa dengan pola ini. Kakek-nenek jalan sendirian dengan sepeda, ibu-ibu bersepeda dengan anak di boncengan, seorang mahasiswa membelah malam dengan handsfree tertancap di telinganya. Tidak ada yang mengeluh. Bahkan sepertinya mereka sudah menganggap ini bagian dari hidup. Badan sehat, hati pun tabah.
Tapi ada sisi positifnya. Saya jadi bisa menghargai jarak, waktu, dan udara segar. Bahkan kadang menikmati pemandangan kecil seperti burung gagak di pinggir jalan atau rentetan sepeda yang terparkir di kampus.
Jadi kalau kamu berencana tinggal di Jepang, jangan cuma bawa koper dan paspor. Siapkan dengkulmu. Karena di sini, kaki bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah sahabat, penolong, dan kadang musuh yang memberontak kalau dipaksa kerja keras tanpa pemanasan.
~Abede, gobyos
Kontributor kabarseputarmuria di Tsukuba Jepang