Jepara – Cerita pilu tentang abrasi pantai di Jepara selama puluhan tahun yang lalu masih bisa kita dengan dari seorang warga yang asli lahir di desa Bulak lama . Ia becerita bahwa desa Bulak dulu cukup luas . Selain hidup sebagai nelayan ada juga warga yang hidup dari bertani dan memelihara ikan.

“ Saya masih ingat pantai desa Bulak dulu dari jalan raya baru ini sekitar satu kilometer di sebalah barat sana . Sekarang pantainya makin mendekat dari jalan raya ini taka da 100 meter. Jadi sampai saat ini abrasi masih terus menggerus pantai “, kata Yahya ( 75)  warga desa Bulak Baru saksi hidup keganasan  abrasi .

Pada kabarseputarmuria yang menemui Minggu 5 April 2026 Yahyamengatakan, ia lahir di desa Bulak lama yang kini telah berubah menjadi air. Sebelum abrasi mengganas suasana desa Bulak aman damai dan cukup luas. Warganya bekerja sebagai nelayan, petambak dan petani.

“ Ketika saya masih kecil desa masih utuh seperti sediakala , namun abrasi mulai menggerus sekitar tahun 1980 an makin lama makin cepat . Sehingga rumah rumah banyak yang roboh pasir putih terus memasuki desa “, cerita Yahya.

Situasi bertambah kacau setiap tahun tanah desa terus berkurang karena gerusan abrasi . Warga yang rumahnya roboh karena abrasi banyak yang pindah ke tempat lain seperti di Pantai Kota Jepara. Ada banyak warga yang transmigrasi ke luar pulau jawa. Namun banyak warga yang bertahan menunggui hartanya berupa tanah sawah dan tambak.

“ Bagi warga yang tidak mempunyai tanah di desa banyak yang pindah ke luar desa ke tempat lain dan transmigrasi. Saya merupakan salah satu warga yang masih bertahan di desa ini sampai sekarang”, kisah Yahya.

Warga warga yang masih bertahan dipinggir pantai itulah pada tahu 1980an oleh Pemerintah propinsi dibuatkan tempat sebagai relokasi agar warga aman dari terjangan abrasi. Di area persawahan desa Bugel itulah pemerintah membuatkan tanah kapling yang diperuntukkan warga yang masih bertahan . Tanah disediakan dan rumah membangun sendiri sesuai dengan kemampuan.

“ Saya dulu juga dapat satu kaplingan di sana yang awalnya sangat susah . Jalan belum ada rumah masih jarang dan suasana kalau malam seperti kuburan karena belum ada lampu listrik untuk penerangan”, kenang Yahya.

Waktu bergulir Yahya kemudian  pindah dari relokasi itu dan tinggal di pinggir jalan raya yang saat ini ditempatinya. Di lokasi saat ini Yahya bisa membuka usaha untuk menyambung hidup dengan membuka warung keci kecilan selain itu juga bisa beternak ayam dan itik. Di tempat ini Yahya mengaku sudah lebih 20 tahun.

“ Kalau masalah terkait abrasi di desa Bulak dulu saya masih ingat sekali karena saya warga asli sini dan tidak pernah pindah dari tempat ini. Saya tinggal dipinggir jalan ray aini sudah lama juga . Sebelum jalan ini di aspal masih berupa tanah “, kata Yahya menutup sua .(Pak Muin)