Jepara – Petambak garam di kabupataen Jepara pada khir bulan Juli ini sudah mulai panen . Untuk panen raya jika tidak ada hujan berkepanjangan doperkirakan jatuh pada pertengahan atau akhir bulan Agustus. Saat ini sudah lebih separuh area tambak garam yang sudah panen.
Salah satu desa penghasil garam di Jepara adalah desa Kedungmalang kecamatan Kedung. Desa ini sudah puluhan tahun warganya mengandalkan garam sebagai penghasilan utama menghidupi keluarga. Budi daya ikan saat ini menjadi sampingan saja usai membuat garam.
“ Ini tambak tinggalan mertua saya meneruskan usaha membuat garam ini . Jika kemarau datang langsung terjun ke tambak memproduksi garam. Alhamdulillan bulan Juli ini sudah panen ini untuk kali ketiga pungut garam “, kata Musthofa warga desa Kedungmalang pada kabarseputarmuria Selasa 31/7/2025.
Muathofa membuat garam awalnya belajar dari mertua yang sudah puluhan berprofesi sebagai petambak garam. Ia belum lama menekuni usaha pembuatan garam krosok ini. Ia belum pernah merasakan membuat garam di meja kristalisasi berupa tanah liat. Kini meja kristalisasi menggunakan palstik mulsa hitam yang disebut geo membrane.
“ Dulu sebelum menggunakan plastic hitam seperti ini membuat garam susah jika panasnya tidak kuat sulit panen. Apalagi jika sering hujan alamat tidak bisa panen . Namun dengan plastic hitam tebal ini meski ada hujan sesekali masih bisa panen meski hasilnya tidak bisa maksimal “, tambah Musthofa sambil memasukkan garam ke keranjang,
Ketika kabarseputarmuria sambaing ke tambak di belakang rumahnya Musthofa Tengah memanen garam . Dengan alat erupa penggaruk yang dibuat dari pralon besar tebal.Ia kumpulkan garam ke pinggir pinggir pematang. Selanjutnya garam dimasukkan ke dalam keranjang yang terbuat dari bilah bambu.
“ Ini sudah ketiga kali kita pungut garam yang pertama dikit dikit terus tambah terakhir satu petak ini dapat 16 keranjang . Kalau nanti sudah maksimal panasnya satu petak ini bisa dapat 30 keranjag dengan berat hampir satu kwintal “, kata Musthofa .
Membuat garam saat ini menurut Musthofa butuh modal yang cukup besar untuk membeli geomembrane. Jika beli baru semua petambak seperti dirinya butuh Rp 25-30 juta untuk membeli geomembrane. Namun untung ia masih ada geomembrane lama yang sudah dipakai beberapa kali.
“ Saya nanti tetap beli baru untuk meja kristalisasi yang kelima karena geomembrane yang ada rusak dan harus diganti baru. Perpetak ini ya butuh 1,5 rol kalau baru ya sekitar Rp 6 jutaan . Untungnya sudah panen uang panen perdana buat beli geomembrane “, kata Musthofa lagi.
Terkait harga garam sejak dulu hingga kini selalu flutuatif atau berubah rubah tergantung pasokan dilapangan. Jika garam sulit dicari harga garam cenderung mahal , tetapi jika stok banyak hargapun turun drastic. Awal panen kemarin satu keranjang laku Rp 100 ribu namun setelah pungut 3 kali harga jadi Rp 75 ribu perkeranjang.
“ Harga garam tak ada patokan atau HPP bisa murah juga bisa mahal tergantung situasi dan kondisi . Kalau harga garam perkeranjang Rp 75 ribu terus petambak masih dapat untung yang lumayan kalau kemarau panjang. Kalau dibawah Rp 25 perkeranjang petambak untung tipis atau malah rugi “, kata Musthofa menutup sua. (Pak Muin)
