Jepara – Musim hujan mulai reda kesempatan ini digunakan petambak garam di Jepara mulai mengerjakan lahannya. Selain menguras air di tambak lahan yang digunakan untuk memproduksi garam mulai di tata. Pematang ditinggikan selain itu saluran air juga di dalamkan .

Lahan produksi garam di Jepara ada di bagian Selatan mulai dari desa Kedungmalang hingga desa Tanggultlare kecamatan Kedung . Lahan tambak di pinggir jalan raya alternatif Semarang- Jepara setiap tahunnya menghasilkan ribuan ton garam krosok. Selain itu juga ikan dan udang.

Nur Rahmad (65) petambak garam dari desa Kedungmalang mengatakan tahun 2026 ini petambak garam semangat menggarap lahan garamnya karena harga garam masih bagus. Jika panen awal biaya operasional pembuatan garam akan cepat tertutup dari tingginya harga garam.

“ Jika panen awal harga garam masih bagus , tetapi jika mulai panen raya harga pasti anjlok banyak. Sehingga para petambak disini ingin panen lebih awal sehingga bisa merasakan harga garam tinggi “, tambah  Nur Ahmad Minggu 5/4/2026.

Harga garam saat ini di Jepara dari pantauan kabarseputarmuria perkeranjang Rp 150 ribu sedangkan perkwintalnya sekitar Rp 180-200 ribu . Harga saat ini sudah mengalami penurunan dari sebelumnya yang mencapai Rp 250 ribu perwintalnya. Pasokan garam masih ada disebagian lahan .

“ Tahun 2025 harga garam pernah menyentuh Rp 250 ribu perkwintalnya , namun makin kesini harga terus turun . Apalagi jika ada yang panen harga garam akan turun perlahan lahan setiap waktun”, kata Nur Ahmad lagi.

Meskipun diperkirakan masih ada hujan susulan namun hal itu tak menghambat petambak untuk menggarap lahannya. Sehingga jika kita lewat jalan  yang menuju kota Jepara semua lahan garam sudah mulai di garap oleh para pemiliknya. Jika tidak ada hujan  sebulan ke depan diperkirakan tambak garam di Jepara sudah ada yang panen. ( Pak Muin)