Demak – Meskipun tidak mau berkoalisi dengan partai lain, namun dalam Pemilukada Demak 2015 ini Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak kepincut pada golput (Golongan Putih).
Kedua partai ini juga tidak mau melakukan gerakan dan memrovokasi rakyat agar menjadi golput. Demikian dikemukakan pimpinan kedua parpol tersebut secara terpisah kepada demakpos.com, Senin dan Selasa (28/7/2015).
“PKS mendukung pasangan DADI (Drs H Moh Dachirin Said, SH., M.Si – Edi Sayudi, SE)”, kata Jumeri.
Hal senada juga dikemukakan Ketua DPC PDIP Kabupaten Demak, HS Fahrudin Bisri Slamet, SE, melalui telepon selulernya.
“PDIP mendukung pasangan NASIR-JOS (HM Natsir, S.Ag., M.Pd., MM – Drs Joko Sutanto)”, kata peraih suara terbanyak pada Pileg 2014 lalu.
Sehingga , pasangan DADI mendapat total dukungan 16 kursi , pasangan NASIR-JOS sebanyak 22 kursi. Sedangkan pasangan HARUM tetap mendapat dukungan utuh sebanyak 12 kursi, sehingga tidak ada lagi sisa kursi DPRD yang ‘gentayangan’. Dengan kata lain semua parpol di Demak saiyeg saekoproyo dalam rangka kesusksesan Pilkada Demak 2015
Meskipun jumlah dukungan kursi DPRD ‘njomplang’ pada masing-masing pasangan, namun dukungan calon pemilih terhadap ketiga paslon bobotnya imbang karena semua bakal calon yang bertanding tersebut adalah penduduk asli Demak, yang tentu sudah memiliki kantong-kantong suara, setidak-tidaknya dari kalangan keluarga, tetangga, komunitas dan persaudaraan.
Dachirin Said dan Harwanto memiliki kelebihan sebagai petahana (incumban) bupati dan wakil bupati, dan Natsir adalah mantan pejabat Dikpora yang melepas jabatannya dengan alasan mencalonkan diri sebagai bupati, ketua Pengurus Daerah Persatuan Guru Republik Indonesia (PD PGRI) dan ketua Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Demak.
Sedangkan para calon wakilnya, Edi Sayudi adalah pengusaha, pelaku bisnis dan swatawan yang sukses “membendung uang rakyat” ke luar daerah. Maskuri, pelaku demokrasi, ketua DPC Gerindra, wakil ketua DPRD yang merelakan jabatannya dengan alasan mencalonkan diri sebagai wakil bupati.
Beberapa tahun mengawal aspirasi rakyat di fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan pemegang kendali pemuda selaku Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Demak. Sedangkan Joko Sutanto, adalah pensiunan pejabat teras Setda Kabupaten Demak, yang juga memiliki kedekatan khusus dengan jajaran birokrat di pemerintahan di berbagai tingkatan hingga perangkat desa.
Secara umum dan kasat mata, para cabup-cawabup tersebut telah memiliki rapor dengan angka baik. Secara khusus, tentu masing-masing calon pemilih sudah mempunyai catatan sebagai bahan pertimbangan atas pilihannya nanti.
Yang jelas dan pengalaman selama ini menunjukkan bahwa kemenangan pilkada tidak dapat ditentukan oleh banyak-sedikitnya dukungan partai, malainkan sudah beralih pada hati nurani dan simpati serta emosi pencoblos. (Machmud)