Jepara  – Belajar tentang bullying tidak selalu harus dilakukan dengan suasana serius. Hal itu terlihat dalam kegiatan sosialisasi anti-bullying yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNISNU Jepara Desa Kepuk bersama siswa kelas IV, V, dan VI SD 01 Kepuk, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Sabtu (8/8/2026).

Mengusung tema “Aku Berani Berkata Tidak pada Bullying: Menjadi Teman yang Baik dan Saling Menghargai”, kegiatan tersebut mengajak siswa mengenali berbagai bentuk bullying sekaligus memahami bagaimana seharusnya bersikap ketika mengalami maupun melihat tindakan tersebut.

Tidak hanya mendengarkan materi, siswa juga diajak berefleksi melalui video edukasi dan sesi deep talk.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya, Subbanul Wathon, dan Mars UNISNU. Setelah itu, suasana menjadi lebih khidmat dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Umam.

Rangkaian pembukaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kormades KKN UNISNU Desa Kepuk dan pihak sekolah.

Koordinator Mahasiswa Desa (Kormades) KKN UNISNU Desa Kepuk, Janisa Diva, menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah yang telah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berbagi edukasi bersama siswa. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat dan menjadi pengalaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Terima kasih kepada pihak SD 01 Kepuk yang sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan ini. Semoga acara hari ini bisa bermanfaat dan adik-adik semakin memahami pentingnya menjadi teman yang baik serta saling menghargai,” ujar Janisa.

Sementara itu, Kepala SD 01 kepuk Sri Nur’aini  menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN tersebut. Ia menjelaskan bahwa edukasi anti-bullying sebenarnya telah diberikan kepada siswa ketika pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Namun, ia menilai penguatan kembali mengenai pentingnya saling menghargai tetap diperlukan.

“Sebenarnya saat MPLS anak-anak sudah mendapatkan sosialisasi tentang anti-bullying. Alhamdulillah, sampai sekarang belum ada tindakan bullying yang mencolok di sekolah. Tetapi, kegiatan seperti ini tetap penting untuk mengingatkan kembali anak-anak agar selalu menjaga sikap dan perkataan kepada teman,” ungkap Sri Nur’aini.

Memasuki sesi utama, kegiatan dipandu oleh Saudari Feli selaku moderator. Ia mengajak siswa mengikuti materi dengan santai dan berani menyampaikan pendapat.

Materi kemudian disampaikan oleh Dosen UNISNU Jepara, Santi Andriani, yang mengemas pembahasan bullying melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa.

Santi menjelaskan bahwa bullying dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari tindakan fisik, perkataan, pengucilan, hingga perilaku yang dilakukan melalui media digital.

Menurutnya, candaan yang dilakukan tanpa memperhatikan perasaan teman juga dapat menimbulkan luka bagi orang lain.

“Bullying itu tidak hanya memukul atau melakukan kekerasan secara fisik. Mengejek, memberi julukan yang tidak disukai, mempermalukan, mengucilkan, atau mengatakan sesuatu yang membuat teman merasa rendah juga harus kita hindari,” jelas Santi.

Para siswa kemudian diajak memahami apa yang harus dilakukan ketika menghadapi bullying.

Santi menekankan agar siswa tidak membalas tindakan tersebut dengan kekerasan, tetapi berani mengatakan tidak, menjauh dari situasi yang membahayakan, dan meminta bantuan kepada orang yang dipercaya.

“Kalau kalian mengalami bullying, jangan dipendam sendiri. Ceritakan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang kalian percaya. Kalau melihat teman dibully, jangan ikut menertawakan. Jadilah teman yang membantu,” pesannya.

Suasana semakin interaktif ketika siswa diajak membahas berbagai contoh situasi yang dapat terjadi di lingkungan sekolah. Dari pembahasan tersebut, siswa diarahkan untuk membedakan antara bercanda dan tindakan yang dapat menyakiti perasaan teman.

Santi juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda sehingga penting untuk menjaga perkataan dan tindakan.

Setelah materi selesai, siswa diajak menonton video edukasi anti-bullying. Tayangan tersebut menjadi bahan refleksi bagi siswa mengenai dampak bullying terhadap perasaan seseorang.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi deep talk, di mana siswa diberikan ruang untuk menuliskan hal-hal menyakitkan yang pernah mereka alami, baik berupa perkataan maupun perlakuan dari orang lain.

Dalam sesi tersebut, siswa diajak memahami bahwa pengalaman yang dianggap sederhana oleh seseorang belum tentu terasa sederhana bagi orang lain.

Santi mengatakan bahwa menjaga perasaan teman dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti tidak mengejek, mau mendengarkan, dan memberikan dukungan ketika teman sedang mengalami kesulitan.

“Kadang kita menganggap sesuatu hanya bercanda, tetapi teman kita bisa saja merasa sangat terluka. Karena itu, sebelum bercanda, mari pikirkan dulu apakah perkataan kita bisa menyakiti orang lain,” tutur Santi.

Kegiatan sosialisasi ditutup dengan refleksi bersama mengenai pesan yang diperoleh selama kegiatan. Para siswa diharapkan tidak hanya memahami pengertian bullying, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan menjadi teman yang saling menghargai dan berani membantu ketika melihat tindakan yang tidak baik.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UNISNU Jepara berharap tercipta lingkungan sekolah yang semakin aman, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa.

Keberanian berkata tidak pada bullying diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan untuk saling menjaga, menghargai, dan menjadi teman yang baik bagi sesama.