Jepara – Profesi tukang ukir di Jepara ada yang mengatakan diambang kepunahan. Namun bagi pak Mastur warga desa Bulak Baru kecamatan Kedung pekerjaan sebagai tukang ukir masih menghidupi keluarganya. Setiap hari ia masih bekerja sebagai tukang ukir.
Di teras rumah sederhanya dengan meja kecil , kursi dan seperangkat alat ukir . ia masih menerima orderan menggarap ukiran kayu . Dengan tekun dan teliti ia garap pekerjaan ukir yang agak njlimet . Ia mensyukuri masih ada pengusaha mebel yang memberi orderan.
“ Ini sepertinya ukiran tempel motif Bali bukan untuk meja atau kursi. Kalau tingkat kesulitannya ya sedang saja. Ini yang memberi pekerjaan ya kenalan pengusaha mebel . Alhamdilillah setiap hari masih kerja ngukir “, kata pak Mastur pada kabarseputarmuria Minggu 7/12/2025
Mastur mengatakan , saat ini pekerjaan ukir memang tak seramai dulu . Bahkan banyak temannya yang alih profesi ukir terutama pengukir pria. Mereka mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja apa saja yang penting dapat uag untuk hidupi keluarga.
“ Kalau di desa Bulak baru ini pengukir pria tinggal sedikit , yang masih ada pengukir wanita karena bukan pekerjaan pokok namun pekerjaan sambilan . Waktunya di sela sela mengurusi keluarga “, tambah Mastur.
Terkait upah tukang ukir sekarang Mastur menambahkan , satu garapan ukir yang ia terima upahnya Rp 110.000 rupiah . Jika dikerjakan satu hari mulai jam 7 pagi hingga jam 4 sore tidak bisa selesai. Namun ketika dilembur hingga larut malam pekerjaan itu bisa selesai.
“ Ini pekerjaan borong seperti ini saya kerjakan mulai jam 7 sampai sore hari tidak bisa jadi . Lalu habis isya saya kerjakan lagi hingga larut malam. Intinya upah Rp 110 ribu seharian belum bisa selesai “, kata Mastur lagi.
Meski ada yang mengatakan upah kerja ukir sekarang kecil tetapi bagi Mastur tetap penghasilan satu satunya untuk keluarga. Sehingga setiap hari ia tetap menjalani pekerjaan mengukir di teras rumahnya yang sederhana. Untuk ia dibantu iastrinya sebagai guru PAUD Swasta.
Dilihat rumah Mastur cukup sederhana dan jauh dari kata layak . Namun karena tidak ada biaya untuk renovasi rumah itupun dibiarkan begitu saja. Meski berpenghasilan yang minim namun keluarga Mastur tidak mendapatkan Bantuan Sosial dari pemerintah.
Terkait bantuan sosial dari pemerintah Mastur mengatakan, pernah mendapat kartu namun sampai saat ini kartu itu dicek belum ada isinya. Beberapa waktu lalu juga fihak desa menguruskan kartu tersebut namun sampai saat ini bantuan belum cair.
“ Bantuan beasiswa PIP untuk anak saya juga tidak dapat padahal ada kabar anak pelerja ukir dapat beasiswa dari pemerintah . Namun sampai sekarang beasisewa nak saya juga belum cair sama sekali “, kata Mastus menutup sua. (Pak Muin)