Jepara– Musim hujan telah tiba proses pembuatan garam di Jepara telah usai . Tambak tambak garam mulai terisi air payau petambak garam beralih fungsi untuk budi daya ikan.Kesibukan petambak kini menebar benih ikan dan udang agar tambak terus menghasilkan.

Datangnya musim hujan membuat harga garam terus beranjan naik. Awal panen satu keranjang garam Rp 70 ribu paling mahal. Namun di musim penghujan ini harga terus naik hingga menyentuh Rp 170 ribu perkeranjang atau Rp 240 ribu perkwintal diatas truk.

Ahmad pedagang garam dari desa Surodadi kecamatan Kedung pada kabarseputarmuria mengatakan , naiknya harga garam dipicu produksi garam yang minimal di tahun 2025. Selain itu penyimpan garam masih menunggu harga garam yang lebih tinggi. Dengan kata lain garam masih di tahan.

“ Dari awal panen ini kenaikan harga sudah lebih dua kali lipat kemungkinan masih bisa naik lagi. Ini garam akan saya kirim ke Batang harga diatas truk Rp 240 ribu perkwintal. Untuk dilahan tergantung jauh dekatnya dengan jalan raya “, kata Ahmad .

Ahmad yang sudah lebih 25 tahun berdagang garam tahu betul kondisi harga garam . Jika kebutuhan naik dan stok minim harga dipastikan naik. Selain itu juga situasi petambak garam jika saling menunggu tidak ada penjualan harga juga stagnan atau bisa naik.

“ Nah ketika petambak ramai ramai menjual garamnya itulah harga garam bisa turun signifikan. Namun kondisi saat ini petambak jarang yang menjual garam mereka masih menunggu harga bisa naik lagi . Jadi harga tetap tinggi “, tambah Ahmad.

Ahmad menambahkan , ia berdagang garam hanya untuk kebutuhan dalam provinsi saja belum pernah mengirim garanm ke luar Jawa. Selain modalnya besar juga resikonya juga tinggi . Ia lebih nyaman mengirim garam ke lokalan Jawa Tengah saja.

“ Kalau ini sekitar 8 ton mestinya truk ini muat 10 ton . Namun barangnya hanya ada 8 ton  ya kita kirim seadanya dulu. Kalau tidak salah yang saya kirimi ini pabrik Mie di Batang “, kata Ahmad menutup sua. (Pak Muin)