Jepara – Muchsin petambak garam dari desa Panggung kecamatan Kedung yang merasakan dahsyatnya gelombang laut dan rob di musim penghujan. Betapa dalam waktu hitungan menit tanggul yang dibuat oleh alat berat larut terbawa arus air.

Untuk mengatasi agar tanggul tidak terus ambrol ia kini membuat tanggul baru dengan zak zak yang diisi pasir. Ia meminta tolong sesama petambak untuk membut tanggul baru . Agar abrasi tidak menghancurkan tambak garam yang selama ini di garapnya.

“ Untuk buat tanggul ini kemarin sudah keluar biaya Rp 15 juta . Hanya bertahan beberapa bulan saja karena di hantam ombak musim penghujan sekali saja sduah hancur berkeping keping seperti ini “ Muchsin pada kabarseputarmuria Minggu 16/11/2025.

Muchsin mengatakan , abrasi di desa panggung sudah lebih 10 tahun sehingga tambak yang digarapnya tinggal separuh kurang. Selain itu sebelah baratnya lagi masih ada tambak lebih satu hektar . Namun saat ini hanya berupa air ditepi pantai yang tak produkatif.

Melihat kondisi itulah Muchsin berharap ada campur tangan dari pemerintah terkait abrasi yang terus menggerus tambak tambak di desa Panggung dan sekitarnya. Misalnya dengan membuat talud permanen ataupun pemecah gelombang seperti di tempat lain.

“ Itu yang di Semarang dan Pekalongan ada tanggul permanen untuk atasi abrasi . Dari dulu hingga kini belum ada upaya untuk mencegah abrasi . Paling ditanami mangrove yang selalu hancur ketika ombak datang . Seperti di tambak Bulak Baru dan Tanggultlare”, tambah Muchsin .

Menurut Muchsin tambak tambak di desa Panggung masih produktif untuk membuat garam. Jika musim penghujan kemarau tiba tambak tambak tersebut digunakan untuk memproduksi garam. Garam garam yang dihasilkan kualitasnya juga bagus. Dulu sebelum abrasi jika musim hujan digunakan untuk budidaya ikan.

“ Kalau saat ini jika musim hujan tambak dibiarkan seperti ini karena posisi tanggul hancur . Tak bisa lagi untuk budiadaya ikan seperti dulu. Kalaupun dipaksakan hasilnya tak maksimal karena ikan akan hilang terbawa arus air ketika rob tinggi datang “, kata Muchsin menutup sua. (Pak Muin)