Demak – Bulan September 2025 ini kawasan sentra produksi garam di Demak utamanya desa Kedungkarang kecamatan Wedung beberapa kali diguyur hujan . Sehingga produksi garam tidak bisa lancar karena pasokan air tua habis tersapu hujan. Akibatnya butuh waktu 10 hingga dua pekan agar lahan bisa di panen.
Sahid petambak garam warga desa Kedungmutih yang menggarap lahan garam di desa Kedungkarang mengatakan, meski masih ada hujan ia tetap menggarap lahannya menunggu hujan reda. Ia mengeluarkan air hujan dari petak petak yang sudah panen beberapa kali.
Tujuan dari pengeluaran ini untuk mempercepat kembali petakan garam agar bisa dipanen. Air hujan yang masuk ke dalam petakan produksi garam akan memperlambat kristalisasi garam. Agar air jadi kristal harus berkadar garam tinggi .
“ Kalau habis hujan kayak begini kadar garamnya nol , Sehingga meskipun di jemur dalam terik matahari tinggi akan sulit mengkristal. Jadi salah satu jalan agar cepat panen ya dikuras dan diisi air dengan kadar garam tinggi “, kata Sahid pada kabarseputarmuria Senin 15/9/2025.
Sahid mengatakan tahun 2025 ini membuaat garam sangat sulit. Selain panas mataharinya tidak begitu kuat juga masih ada hujan ketika sudah panen. Sehingga produksi garam tidak maksimal. Habis panen kembali ke awal lagi karena air hujan masuk ke lahan kristaliasai.
“ Seharusnya hari ini sudah panen lagi kalau tidak ada hujan. Kalau kondisinya begini ya butuh waktu hingga 10 hari lagi agr bisa panen lagi. Nanti kalau hujan lagi ya tunggu waktunya untuk panen kian lama. Kalau hujan terus ya masa produksi garam selesai “, tambah Sahid.
Namun Sahid optimis jika masih ada waktu membuat garam dua bulan lagi . Ia berharap petengahan bulan September hingga Oktober tidak ada hujan. Sehingga petambak garam masih bisa produksi garam. Hasil yangh dusah didapatkan ini belum ada apa apanya dengan hasil tahun 2024 lalu.
“ Hasil tahun 2025 belum ada 20 persen karena tahun kemarin saya dapat lebih 1.500 zak . Namun saat ini baru dapat 200 zak . Mudah mudahan panas kembali dan bisa panen lagi “, harap Sahid.
Dengan seringnya hujan menurut Sahid membuat harga garam cenderung naik . Awal panen dengan kondisi setelah hujan ada kenaikan harga gaam yang lumayan tinggi. Harga awal panen satu zaknya Rp 40 ribu kini mulai ada kenaikan harga menjadi Rp 60 ribu setiap zaknya di lahan. (Pak Muin)
https://www.youtube.com/shorts/G3JhQA3cO3U