Tsukuba – Masjid terdekat jaraknya dua kilometer. Tak ada angkot atau motor bebek seperti di kampung. Maka sepeda menjadi satu-satunya pilihan. Perjalanan ditempuh sekitar lima belas menit dengan mengayuh santai, melewati jalanan kota yang bersih dan rapi. Tidak terdengar adzan atau qiroah, sehingga aku berangkat terlalu pagi karena takut telat.

Kali ini aku tidak pakai kostum santri. Tidak ada sarung, baju koko, dan peci. Outfit yang aku kenakan ialah celana panjang, kaos, topi, dan tas selempang. Sekilas, aku tampak seperti orang yang hendak main ke taman.

Bahkan Jum’atan kali  kedua  di Jepangb saya melihat  pemandangan yang tidak wajar alias aneh. Sebebas-bebasnya orang berangkat jumatan, paling mentok pakai kaos lengan pendek. Tapi siang ini, terlihat seorang bule datang jumatan mengenakan singlet putih dengan rambut gondrongnya.

Karena konsep masjid terbuka untuk semua umat, jadi tidak ada yang mengusirnya, tidak ada yang mencemoohnya. Ia datang dengan tenang, pulang dengan nyaman, tanpa merasa ada sesuatu yang janggal.

Pemandangan ini justru membangkitkan kesadaran bahwa pakaian selama ini hanya sebatas simbol. Fungsinya untuk menutup aurat memang benar. Tapi yang lebih penting adalah kehadiran hati untuk menghadap-Nya.

 

Sampai di lokasi, ternyata aku berangkat kepagian. Mudah-mudahan dapat unta seperti yang dijanjikan sebuah hadits. Masjidnya kecil, sangat sederhana kalau dibandingkan dengan masjid-masjid Indonesia yang sering megah dan berlantai keramik mengilap.

Seorang informan mengatakan kalau pengelola masjid ini bergantian, tidak dimonopoli salah satu kelompok Islam dari suatu negara.

Jumatan dibagi dua kloter: pukul 12.15 dan 13.00 JST. Aku ikut yang kloter pertama. Adzannya cuma sekali, tidak dua kali seperti yang biasa kudengar di Indonesia.

Khutbahnya menggunakan bahasa Inggris bercampur Arab. Tampilan khatibnya cuma pakai gamis, tidak pakai sorban atau penutup kepala lainnya. Tidak juga pegang tongkat. Aku berusaha menangkap makna yang ia sampaikan, meski beberapa bagian meleset dari pemahamanku yang belum mahir.

Yang menarik, jamaahnya lintas negara. Muslim dari berbagai belahan dunia berdiri sejajar, bersentuhan bahu, menyamakan arah. Penduduk asli justru sangat jarang terlihat.

Bubaran jumatan, banyak orang Indonesia ngemper di samping masjid bercengkerama: bertukar informasi penting atau sekadar keep in touch. Ada juga yang sedang COD-an batagor. Begitu banyaknya orang Indonesia sampai rasanya tak ada dorongan untuk menyapa dan mengenal satu per satu.

Pulangnya, aku kembali mengayuh sepeda membelah terik. Tak buru-buru. Mungkin karena di tengah kota asing, aku akhirnya menemukan sesuatu yang familiar: manifestasi ajaran tauhid.

~Hilmi Abedillah

Contributor kabarseputarmuria di Tsukuba Jepang