Jepara – Dengan tingkat kepadatan pendudukan dan luas wilayah pemukiman serta sumberdaya alam yang berlimpah, maka kreatifitas masyarakat di Desa Karanganyar kecamatan Welahan  terfokus pada industri rumah tangga yaitu penghasil mainan anak-anak dengan berbahan baku limbah yang ramah lingkungan dan harga yang terjangkau.

Industri mainan anak-anak yang diproduksi di Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara telah merambah ke berbagai kota di Indonesia, beragam jenis permainan dan desain serta warna yang disajikan merupakan karya anak bangsa dengan berbasis kearifan lokal.

Harga yang ditawarkan juga cukup bersaing karena segmen yang dituju adalah anak-anak, sehingga tujuannya adalah anak-anak mampu berkembang sesuai dengan usia dan pola pikir anak juga mengalami peningkatan.

Aneka barang bekas yang selama ini tak terpakai akan mudah ditemui di Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. Namun bukan disia-siakan begitu saja, di rumah-rumah penduduk kampung itu mengubah aneka barang bekas berbahan plastik, kertas hingga rumah bekicot disulap menjadi aneka mainan tradisonal.

Tak heran kampung Karanganyar sudah lama kondang sebagai penghasil mainan anak.
“Warga desa ini ramai memproduksi mainan anak-anak sejak tahun 70an,” kata salah satu warga pengrajin mainan anak-anak Bisri, Jum’at, 2 November 2021 kemarin.

Menurut dia, kampungnya ramai memproduksi anek amainan tradisional dipelopori oleh Mudi, warga kampung penjual mainan bebek-bebekan terbuat dari lilin. Kala itu Mudi melihat penjaja lain yang menjual kitiran (semacam baling-baling kertas) di Taman Sriwedari Solo tahun 1975.

“Sewaktu merantau dijakarta banyak melihat mainan layang-layangan yang terbuat dari plastik karena penasaran dia beli satu kemudian dibongkar untuk mengetahui cara membuatnya. Setelah itu dia bawa pulang dan produksi di rumah, ternyata laris,” kata Bisri.
Dari hasil pengrajin layang-layang mengaku bisa mengirim 4 ribu sampai 5 ribu unit ke Batam setiap pekan. Meski diakui pandemi Covid-19 membuat pesanan mainan ikut sepi.

“Baru di bulan September dan November muncul lagi, itu pun dua minggu sampai sebulan sekali,” kata Bisri.

Kreativitas Bisri itu diikuti warga lain. Sejak itu, masyarakat Karanganyar mulai menggeluti kerajinan dolanan tradisional. Awalnya yang di produksi hanya mainan jenis layang-layamg dan kitiran yang dijual mulai Rp 1.000 hingga Rp3 ribu, lambat laun mengikuti perkembangan muncul berbagai mainan lain seperti Sorongan atau othok-othok, Lele-lelean dan Tikus-tikusan.

Harga jual aneka mainan yang dibuat oleh warga Karangnyar pun tergolong murah, rata-rata kurang dari Rp10 ribu. “Dipasarkan sesuai dengan bentuk dan ukuran. Harga yang murah sehingga mendapat ruang di pasar,” kata Bisri menjelaskan.

Mainan anak atau dolanan tersebut sudah tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Bahkan pernah menembus pasar asia seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Hal itu menjadi alasanm pada tahun 2010 Desa Karanganyar dinobatkan sebagai Sentra Kerajinan Dolanan oleh pemerintah Kabupaten Jepara.

Mainan dari limbah pabrik itu telah berjasa mengubah perekonomian warga Desa Karanganyar yang mulanya buruh tani dan pengrajin anyaman bambu. Pasokan bahan baku tersebut diperoleh dari luar kota seperti kertas dari pabrik rokok di Kudus, kaleng susu dan tutup botol air mineral dari Cirebon, serta spons (evamet) dari Tangerang.

Saat ini ada sekitar seratus pengrajin mainan yang masing-masing memperkerjakan minimal dua karyawan yang kebanyakan memberdayakan ibu rumah tangga.
Bisri mengaku permintaan mainan tradisonal yang ia buat bersama warga kampung masih tinggi di meski dihadapkan mainan digital sekarang. Sehingga tak khawatir produksi mainan tradisional di kampungnya akan redup ditelan permainan digital yang mudah diakses lewat telepon pintar. Ia beralasan mainan yang diproduksi anggota kelompoknya cenderung murah dan terjangkau.
“Selagi masih ada warga baru (kelahiran), insyaallah mainan yang dibuat dari Karanganyar tetap laku,” katanya.
DEWI WAHYUNI, Mahasiswi KKN RDR 77 , Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Walisongo