Demak –¬† Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler Dari Rumah (KKN RDR) Angkatan 75 UIN Walisongo Semarang yang tergabung dalam kelompok 30 kunjungi sentra batik Mlatiharjan khas Demak di Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. Sabtu, (14/11/2020) lalu.

Kabupaten Demak yang memiliki julukan “Demak Kota Wali” tak hanya menyuguhkan wisata religinya saja. Namun Demak juga memiliki batik khas yang salah satunya bernama batik mlatiharjan. Berawal dari hobi menggambar, Kusmidarmini mencoba keberuntungan dengan membuka sentra batik mlatiharjan khas Demak.

“Karena memang dari dulu saya suka gambar-gambar, dan pak lurah yang memang ingin mengembangkan wisata edukasi di Desa Mlatiharja kemudian beliau mengadakan pelatihan membatik di Balaidesa. Dari situ saya tertarik untuk ¬†belajar dan mengembangkan batik khas mlatiharjan ini,” terangnya.Kusmidarmini menambahkan proses pembuatan batik mlatiharjan sama seperti batik pada umumnya.

“Pertama kita ya bikin gambar atau polanya dulu lalu baru dicanting, diwarnai, dikasih obat juga biar warnanya nggak mudah luntur. Batik juga diproses untuk pembuangan malem atau biasanya disebut dilorot,” tambahnya.

Selain motif-motif khas Demak, batik mlatiharjan pun memproduksi batik dengan motif kelengkeng yang merupakan buah yang dikembangkan di Desa Mlatiharjo.

“Motif dari batik mlatiharjan sendiri memang khas dengan motif-motif demakan seperti jambu, belimbing, masjid agung, bledeg. Selain itu juga ada motif kelengkeng, karena memang di Desa Mlatiharjo ini mengembangkan buah kelengkeng,” tuturnya.

Aris Sairi selaku koordinator kelompok 30 merasa senang dengan adanya kunjungan ini karena bisa mencoba langsung membatik di kain.

“Pengalaman pertama saya membatik apalagi dengan motif khas Demak. Darisini juga saya baru tau kalo ternyata di Desa Mlatiharjo ada pengrajin batik. Apalagi disini ada motif kelengkeng yang beda sama motif batik Demak di pengrajin-pengrajin lainnya,” ungkapnya.