Demak , 12 Agustus 2026 — Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 mulai terasa di Desa Sokokidul, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak. Berbagai kegiatan telah dipersiapkan untuk memeriahkan momentum kemerdekaan, salah satunya lomba kebersihan antar-Rukun Tetangga (RT) yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam mempersiapkan dan menata lingkungan masing-masing.
Kegiatan lomba kebersihan antar-RT ini menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-81 RI yang diselenggarakan melalui kolaborasi antara Karang Taruna Desa Sokokidul dan mahasiswa KKN MIT 22 UIN Walisongo Semarang Posko 149. Pelaksanaan kegiatan turut dikoordinasikan oleh Muhammad Khalkaan Tsaqif selaku Koordinator Divisi Pendidikan dan Keagamaan KKN MIT 22 Posko 149, sementara rangkaian kegiatan peringatan HUT RI berada di bawah koordinasi Darsih selaku Ketua Panitia HUT RI Desa Sokokidul.
Lomba kebersihan ini tidak hanya diarahkan sebagai ajang untuk menentukan RT yang paling bersih dan tertata, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Kebersihan dipandang bukan semata-mata sebagai persoalan kondisi fisik lingkungan, melainkan sebagai bagian dari budaya gotong royong dan kepedulian sosial masyarakat.
Darsih selaku Ketua Panitia HUT RI Desa Sokokidul menyampaikan bahwa peringatan HUT RI ke-81 tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari lomba kebersihan RT, karnaval, senam bersama, jalan sehat, pembagian door prize, hingga berbagai perlombaan untuk anak-anak.
Menurutnya, lomba kebersihan RT dipilih karena memiliki nilai yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat.
“Lomba kebersihan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebersamaan, mempererat kerukunan antarwarga, meningkatkan semangat gotong royong, serta mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan,” ujar Darsih.
Kolaborasi antara Karang Taruna dan KKN MIT 22 Posko 149 dalam mempersiapkan rangkaian kegiatan HUT RI juga berjalan dengan lancar dan terarah. Kedua pihak saling melengkapi melalui pertukaran ide, pengalaman, serta kerja sama dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan.
Dari sisi masyarakat, lomba kebersihan juga mendapat dukungan dari warga. Pak Zen, salah satu tokoh warga, menjelaskan bahwa kebiasaan gotong royong sebenarnya telah berlangsung di lingkungan masyarakat Desa Sokokidul sebelum adanya perlombaan.
“Warga di sini sebenarnya tidak menolak kalau diajak berubah dan bersih-bersih. Kebiasaan di sini minimal satu tahun dua kali itu pasti ada kerja bakti bersama, biasanya menjelang bulan Ramadan dan menyambut 17 Agustus. Kalau kemarin Mas-Mas lihat gerakan di sini, banyak warga yang datang dan keluar semua untuk kerja bakti,” ungkap Pak Zen.
Menurut Pak Zen, lomba kebersihan yang baru dilaksanakan tahun ini mendapat dukungan dari masyarakat. Ia juga selama ini mengingatkan warga agar halaman rumah tetap rapi, khususnya rumah yang berada di jalan utama. Selain itu, warga diimbau agar tidak membakar sampah di bahu jalan karena dapat membuat lingkungan terlihat kotor.
“Warga di sini sudah terbiasa rutin. Saya sendiri selalu menegaskan kepada warga agar halaman rumah harus lebih rapi, khususnya yang berada di jalan utama. Apalagi di bahu jalan, jangan sampai ada bekas pembakaran sampah,” jelasnya.
Namun, dalam menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah. Pak Zen menyebutkan bahwa tempat pembuangan sampah masih menjadi pekerjaan rumah, terutama karena belum adanya sistem pengangkutan sampah secara rutin.
“Kalau dibikin program RT sebenarnya bisa, Mas. Tapi cukup berat juga karena butuh fasilitas pendukung, seperti tempat sampah pemilah organik dan anorganik dan kendaraan pengangkutnya. Kalau pemerintah desa memprioritaskan hal itu, kami di tingkat RT tentu sangat senang,” ujarnya.
Pak Zen berharap lomba kebersihan tidak berhenti pada kegiatan perlombaan saja.
“Harapan saya, dengan adanya lomba ini warga jadi lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Saya berharap RT ini bisa menjadi contoh bagi RT-RT lainnya. Entah dilombakan atau tidak, semoga kegiatan gotong royong dan kebersamaan warga ini bisa terus berjalan selamanya,” tuturnya.
Sementara itu, Bu Erma, salah satu warga yang terlibat dalam persiapan lomba, mengatakan bahwa persiapan dimulai setelah masyarakat menerima pamflet warta penyuluhan mengenai kegiatan tersebut. Setelah itu, warga melakukan rapat untuk membahas persiapan dan mulai melakukan pembenahan lingkungan.
“Persiapannya mulai setelah dibagikan pamflet warta penyuluhan itu, Mbak. Setelah itu ada rapat warga. Kebetulan ada beberapa warga yang datang dan kita rembugan bersama untuk mendukung kegiatan ini. Setelah rapat tersebut, warga baru mulai berbenah,” jelas Bu Erma.
Menurut Bu Erma, adanya lomba membuat persiapan lingkungan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya warga hanya memasang umbul-umbul dan bendera, tahun ini warga juga membuat berbagai dekorasi sebagai bagian dari persiapan lomba.
“Kalau tahun sebelumnya tidak ada lomba, jadi tidak ada dekorasi khusus, Mbak. Paling warga cuma memasang umbul-umbul dan bendera. Kalau soal kebersihan tetap disapu seperti biasa, cuma murni tidak dibikin dekorasi. Baru tahun ini saja ada dekorasi-dekorasi seperti sekarang,” ungkapnya.
Bu Erma mengatakan bahwa manfaat yang paling terasa dari kegiatan tersebut adalah meningkatnya kebersamaan warga.
“Manfaat yang paling terasa itu kebersamaannya, Mbak. Warga jadi sering kumpul dan mengerjakan semuanya bareng-bareng; ada yang mengecat bareng dan pasang hiasan. Selain itu lingkungan jadi jauh lebih bersih dan tertata. Kuncinya ada di kekompakan warga, khususnya ibu-ibu muda yang semangat menggerakkan,” jelas Bu Erma.
Semangat warga juga terlihat dari keterlibatan berbagai kelompok usia. Anak-anak ikut membantu mengecat patok dan merapikan jalan, sementara ibu-ibu muda membuat hiasan dari botol bekas. Para bapak turut bergotong royong membuat gapura. Menurut warga, anak-anak bahkan ikut membantu hingga malam hari.
Pendanaan kegiatan di tingkat RT juga berasal dari swadaya masyarakat. Bu Erma menjelaskan bahwa dana tersebut berasal dari jimpitan warga sebesar Rp2.000 per kepala keluarga setiap minggu dalam kegiatan tahlilan rutin. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk kebutuhan kegiatan warga, termasuk persiapan lomba kebersihan, sementara sisanya disiapkan untuk kegiatan tahun berikutnya.
Dalam pelaksanaan lomba, mahasiswa KKN MIT 22 Posko 149 turut terlibat dalam koordinasi dan persiapan kegiatan. Muhammad Khalkaan Tsaqif selaku Koordinator Divisi Pendidikan dan Keagamaan sekaligus penanggung jawab kegiatan dari pihak mahasiswa KKN mengatakan bahwa lomba kebersihan dirancang agar masyarakat dapat terlibat secara langsung.
“Lomba ini kami buat bukan hanya untuk menentukan RT mana yang paling bersih, tetapi juga supaya warga memiliki kesempatan untuk bersama-sama membangun dan memperbaiki lingkungan. Kami dari KKN berusaha mendampingi dan membantu koordinasi, sedangkan pelaksanaan di lapangan tetap mengandalkan partisipasi dan gotong royong dari masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Bazis Saputra selaku Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT 22 Posko 149 menilai bahwa keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberhasilan kegiatan tersebut.
“Yang paling kami lihat dari kegiatan ini adalah bagaimana warga bisa berkumpul dan bekerja bersama. Semangat seperti ini yang ingin kami dukung melalui kegiatan KKN. Harapannya, setelah lomba selesai, kebiasaan baik yang sudah mulai terbentuk tetap dipertahankan oleh warga,” ungkapnya.
Lomba kebersihan antar-RT dalam rangka HUT ke-81 RI akhirnya tidak hanya menjadi ajang perlombaan antarlingkungan, tetapi juga menjadi momentum bagi warga Desa Sokokidul untuk memperkuat gotong royong. Berbagai persiapan yang dilakukan, mulai dari membersihkan lingkungan, mengecat patok, membuat gapura, hingga membuat hiasan dari barang bekas, menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam menyambut peringatan kemerdekaan.
Melalui kegiatan ini, semangat HUT ke-81 RI di Desa Sokokidul diwujudkan melalui kebersamaan warga dalam menjaga dan menata lingkungan. Harapan warga pun sederhana, agar semangat gotong royong yang muncul selama persiapan lomba tidak berhenti setelah perlombaan selesai, tetapi dapat terus menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
#Posko149SokoNawasena
#KKNUINWalisongoSemarang
#LP2MUINWalisongoSemarang
Penulis: Tim Divisi
Lokasi: Desa Sokokidul, Kec. Kebonagung