DEMAK – Lantunan Surat Yasin mengalun pelan dari dalam Musholla Baitu An-Na’iim, Desa Klitih, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, membelah keheningan malam Jumat (31/7/2026) pukul 20.00 WIB. Satu demi satu dari sekitar 70 hingga 90 warga berdatangan, duduk berjajar rapat hingga meluber ke halaman musholla. Suasana khusyuk itu menjadi penanda dimulainya mujahadah dan dzikir rutinan mingguan yang digelar Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Klitih.

Bukan sekali dua kali warga Klitih merasakan malamvseperti ini. Kegiatan tersebut sudah menjadi denyut rutin kampung, hadir setiap pekan dengan wajah yang selalu sama kebersamaan yang terus dirawat. Dipimpin langsung para kyai dan asatidz setempat, rangkaian acara di isi pembacaan Surat Yasin, tahlil, hingga lantunan kalimat thoyyibah yang menggema dari dalam musholla hingga menembus halaman, mengiringi kekhusyukan warga yang larut dalam dzikir bersama.

Yang membuat tradisi ini terasa istimewa, mujahadah tidak digelar menetap di satu tempat saja. Dari pekan ke pekan, kegiatan berpindah secara bergilir dari musholla ke musholla di seluruh penjurudesa. Sistembergilir ini bukan tanpa alasan ia menjadi cara agar kehangatan kebersamaan dalam beribadah bisa dirasakan langsung oleh warga darisetiap dukuh, tidak hanya oleh mereka yang tinggal di sekitar satu musholla saja.

Ketua Takmir Masjid, Kyai Rukhani, mengungkapkan bahwa semangat di balik mujahadah dan dzikir bersama ini sederhana namun mengakar dalam: merajut tali silaturahmi sekaligus menguatkan spiritualitas warga.

“Tujuan diadakannya mujahadah dan dzikir bersama ini guna membangun erat tali silaturahmi warga dan juga untuk menguatkan spiritual agama warga,” ujarnya.

Malam itu, kehadiran sesepuh desa, Kyai Hadziq Ansori, turut menambah kekhidmatan acara. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata dukungan tokoh masyarakat terhadap pelestarian tradisi keagamaan yang telah lama hidup di Desa Klitih.

Pantauan di lokasi menunjukkan acara berlangsung lancar dan penuh khidmah dari awal hingga akhir. Antusiasme warga tampak begitu tinggi, terlihat dari semangat mereka melantunkan Yasin, tahlil, dan kalimat thoyyibah secara bersama-sama hingga acara usai, seolah jarak dan lelahnya rutinitas harian sirna oleh kebersamaan malam itu.

 

Ditengah dinamika kehidupan desa yang terus bergerak maju, tradisi mujahadah dan dzikir rutinan ini diharapkan tetap lestari – menjadi wadah penguatan spiritual sekaligus perekat sosial yang menyatukan warga Desa Klitih, darisatu musholla ke musholla lainya, darisatu pekan ke pekan berikutnya.