Demak – Panen raya garam di Demak membuat harga sempat turun karena stok melimpah namun saat ini petambak garam di Demak mulai memasukkan garam di gudang masing masing. Stok garam untuk penjualan menipis akibat harga kembali dinaikkan oleh para pengepul. Agar mereka tetap men dapatkan dagangan.

Kholil petambak garam dari desa Kedungmutih kecamatan Wedung pada kabarseputarmuria mengatakan . harga garam kembali naik Rp 5 ribu perzak karena petambak garam hampir semua memasukkan garam di dalam gudang .Garam itu disimpan untuk Tabungan jika sewaktu harga garam naik kembali.

“ Awal panen satu zak garam sekitar Rp 65 ribu tak bertahan lama ketika panen raya tiba. Harga terus turun perlahan lahan hingga sampai Rp 25 ribu. Namun saat ini harga mulai beranjak naik perzak Rp 35 ribu . Harga garam pertama panen perzak 95 ribu namun tak bertahan lama “, kata Kholil pada kabarseputarmuria  Selasa 11/8/2026.

Kholil menambahkan , harga garam yang tidak menentu kadang membuat petambak garam mengalami kerugian karena biaya operasional belum menutup harga garam turun dengan cepat. Akibatnya meski produksi harian banyak namun uang tak seberapa. Satu satunya garam harus disimpan jika haraga rendah.

“ Namun untuk menyimpan selkain punya gudang juga uang untuk belanja harian. Sehingga bagi petambak penyewa yang tidak punya modal . Meski harga garam rendah garam tetap dijual untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga “, tambah Kholil.

Harga garam yang belum ada standar atau patokan dar pemerintah membuat para spekulan atau penimbun bergerak aktif jika harga garam rendah . Mereka membuat  gudang garam setelah jadi kemudian ia membeli garam dari petambak dengan harga murah . Gudang diisi sebanyak banyaknya dan ketika harga beranjak naik garam itu dijual.

“Pernah terjadi harga garam lipat dua ketika dijual pernah juga lipat tiga kali lipatnya. Garam ketika masuk perzak Rp 35 ribu namun ketika dijual bisa Rp 75 ribu sampai Ro 100 ribu perzak. Namun biasanya butuh waktu penimbunan 3-4 tahun. Dijual ketika kemarau pendek atau tidak ada panas dimusim kemarau “, cerita Kholil. ( Pk Muin)