Demak  – Desa Jungsemi, Kecamatan wedung, Kabupaten Demak kembali melaksanakan tradisi turun-temurun “Uler-Uler” pada Jumat Wage, 22 Mei 2026.

Tradisi ini merupakan bentuk doa bersama masyarakat petani setelah masa tanam padi agar tanaman tumbuh subur, terhindar dari hama, serta diberi keselamatan dan kelancaran selama musim panen berlangsung.

Tradisi Uler-Uler dilaksanakan dua kali dalam setahun menyesuaikan dengan musim tanam masyarakat Desa Jungsemi. Musim tanam pertama biasanya dimulai pada bulan Desember dan tradisi Uler-Uler dilaksanakan sekitar Januari hingga awal Februari.

Sedangkan musim tanam kedua dimulai pada bulan Mei dan tradisi kembali digelar setelah proses penanaman selesai.

Pelaksanaan tradisi dilakukan di area persawahan milik desa atau sawah lurahan. Dalam prosesi tersebut, masyarakat membawa berbagai hidangan seperti ayam ingkung, opor ayam, serta kue tradisional berbentuk ular yang kemudian ditanam di area sawah sebagai simbol harapan agar tanaman terhindar dari gangguan dan memperoleh hasil panen yang baik.

Selain itu, terdapat prosesi khusus berupa peletakan ceker dan sayap ayam satu per satu dari pojok selatan hingga pojok utara sawah lurahan. Prosesi ini dipercaya sebagai simbol penjagaan dan permohonan keselamatan bagi seluruh lahan pertanian masyarakat.

Sebelum doa bersama selesai dipanjatkan, masyarakat yang hadir juga memiliki aturan untuk tidak makan maupun mengambil hidangan terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan terhadap jalannya tradisi dan doa bersama.

Pak Kusgiyanto selaku menjelaskan bahwa tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antarwarga.

“Melalui Uler-Uler, masyarakat bisa berkumpul dan berdoa bersama. Selain menjaga tradisi leluhur, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa petani harus selalu menjaga kebersamaan dan memohon keselamatan kepada Tuhan,” tuturnya.

Ibu Zuliati, salah satu warga Desa Jungsemi, mengatakan bahwa tradisi Uler-Uler bukan sekadar kegiatan adat, melainkan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas dimulainya musim tanam.

“Tradisi ini sudah dilakukan sejak dulu oleh para petani di Jungsemi. Kami berharap tanaman padi dijauhkan dari gangguan dan hasil panennya nanti bisa melimpah,” ujarnya.

Hingga saat ini, tradisi Uler-Uler masih terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Jungsemi sebagai bagian dari budaya lokal yang memiliki nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan yang kuat di tengah kehidupan masyarakat agraris.

Tags: Tradisi· KKN Posko 23 · Desa Jungsemi · Kearifan lokal · uler- uler · Gotong royong · Pengabdian Masyarakat · Demak · Jawa Tengah