Demak – Salah satu profesi yang kini masih ditekuni oleh warga adalah menenun kain . Salah satunya adalah Mas Kharis warga desa Tedunan RT 01 RW 03 kecamatan Wedung. Sudah lebih lima tahun ia menenun kain lajoan dari desa Troso . Kini ia memboyong alat tenun di rumahnya.
“ Kalau kerja menenun lajoan lebih 5 tahun tetapi kalau di rumah ini baru 6 bulan lebih sedikit. Yang diluar rumah ini alat tenun manual pakai kaki dan tangan. Sedang yang dalam itu alat tenun pakai dinamo “, kata Kharis pada kabarseputarmuria Minggu 26/11/2025
Saat ini di rumah Kharis ada dua alat tenun yang diluar manual pakai tangan dan kaki yang mengoperasikan dirinya . Sedangkan yang didalam rumah penggeraknya adalah dinamo yang mengoperasikan istrinya. Kedua pasangan suami iatri ini dulunya sama samna pekerja tenun.
“ Ya dulu saya nglajo dari desa Tedunan Demak ke desa Troso kalau mburuh Tenun. Istri juga pekerja tenun di Troso akhirnya ketemu jodoh dan nikah. Saya dan istri tinggal di Tedunan sehingga semua alat tenun saya bawa ke sini “, kata Kharis lagi.
Dari keduanya bekerja sebagai penenun kain ini upahnya bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Upahnya dengan system borongan permeter lari harga borong tergantung kesulitan. Paling murah permeter Rp 9.000 sedangkan yang motif Rp 12.000. Untuk dirinya sehari kerja bisa mendapatkan 10 meter .
“ Untuk saya sih kalau mulai pagi hingga sore istirahat sebentar untuk makan dan sholat bisa dapat 10 meteran . Sedangkan untuk istri ya kurang dikit dari saya. Tetapi kalau dikumpulkan jadi satu ya akhirnya lumayan daripada kerja lajoan ke Troso “, tambah Kharis ,
Untuk semua bahan adalah milik bosnya di desa Troso ia hanya merajin atau membuat kain. Sehingga setiap minggu sekali hasil dari kerjannya menenun diukur mendaspatkan berapa meter. Kain itupun diambil atau ia antarkan ke Troso sambil mengambil upah mingguan.
“ Seminggu berdua kadang bisa dapat Rp 1 juta kadang juga lebih. . Ya tergantung dari kerajinan atau kecepatan menenunnya . Semakin cepatdan mendapat banyak upah juga banyak. Kalau banyak acara sering ptrei ya hasil berkurang “, tambah Kharis lagi.
Dahulu sebelum bekerja sebagai penenun kain Kharis bekerja sebagai nelayan mencari ikan dilaut. Namun saat ini pekerjaan nelayan sudah ditinggalkan . Kalaupun ke laut biasanya ketika laut sedang ramai sehingga pemilikn peahu butuh ABK untuk menjalankan perahunya.
“ Ya kalau ingin membeli kain ini ya harus ketemu bos ,nanti saya antarkan atau kasih nomor HP bos agar bisa nego dengan bos terkait harga dan jenbis kain yang mau di beli. Semua kain ini akan kami setor ke bos di Troso”, tutup Kharis. (Pak Muinj)