Jepara – Hari hari ini petambak garam di Jepara mulai panen raya kembali setelah hujan beberapa minggu yang lalu. saat ini di lahan garam terlihat hamparan garam berwarna putih ada yang masih di dalam keranjang. ada yang di tempatkan di zak zak plastik selain itu ada yang masih di lahan habis di “garuk”.
Pantau kabarseputarmuria dilahan garam desa kedungmalang senin 13/10 . Semua lahan sudah bisa di panen garamnya. Sehingga hari hari ini petambak garam datang ke lahan garam untuk memanen garam.
Pak Sori (65) warga desa kedungmalang pada kabarseputarmuria mengaakan , hujan setengah bulan yang lalku membuat produksi garanm terhenti. Namun setelah itu panas kembali sehingga saat ini semua petambak garam sudah bisa kembali memanen lahannya.
“ Memang setengah bulan lalu ada hujan yang cukuyp deras sehingga hampir semua petambak garam kembali olah lahan membersihkan air sisa hujan . Hari hari ini semua petmabak di desa kedungmlang sudah panen “, kata pak sori yang menggarap lahan dengan sistem paroan.
Produksi garam yang tidak begitu banyak di tahun ini karena kemarau basah. Membuat petambak garam mulai memasukkan garam ke gudang gudang yang ada di tengah lahan garanm. garam hasil panen diangkut secara mandiri banyak pula mengambil tenaga dari luar.
Garam garam yang di panen kebanyakan dimasukkan ke dalam keranjang ,zak ada juga ang dalam bentuk curah. Garam garam tersebut diangkut dengan tenaga manusia dilangsir dengan kereta roda satu dan juga dengan di angkut tenaga manusia. Selain tenaga pria banyak pula tenaga wanita yang ikut dalam kegiatan angkut garam ini.
Hal sama dikatakan Srinoto (45) Petambak garam warga desa Kedungmutih yang menggarap lahan di desa Kedungmalanng. Dengan sulitnya membuat garam pada tahun ini petambak tidak mudah melepasnya untuk dijual kepada pengepul atau pedagang.
Petambak hanya menjual garam untuk kebutuhan yang penting misalnya untuk kebutuhan harian atau bayar pembelian geomembrane. Setelah semua terpenuhi maka garam garam hasil panen langsung dimasukkan ke Gudang untuk disimpan. Penjualannya nangti setelah harga garam tinggi .
“ Untuk tahun 2025 ini bulan Oktober harga garam perkeranjangnya dengan berat 80-90 Rp 120 ribu padahal tahun yang lalu harga perkeranjangnya paling tinggi Rp 70 ribu. Meski tahun ini hasil tak maksimal namun perolehannya bisa setara dengan tahun yang lalu atau lebih jika 1 bulan ke depan belum hujan “, kata Srinoto. (Pak Muin)