Aku di tengah keramaian Shibuya scramble Crossing yang serba terburu buru

Hai, sekarang aku sedang berada di Shibuya Scramble Crossing. Lokasi yang katanya the busiest pedestrian crossing in the world alias penyeberangan pejalan kaki tersibuk di dunia.

Pertama kali aku tahu tentang persimpangan ikonik ini dari serial Alice in Borderland, di mana scene awalnya memperlihatkan landmark ramai ini tiba-tiba sunyi tanpa ada kehidupan.

Di sini aku melihat banyak sekali orang berjalan cepat. Atau bahasa Jawanya gendandapan. Nampak terburu-buru atau perasaanku saja ya. Sepertinya kebanyakan dari mereka bukan karena kebelet kencing.

Gaya berjalan gendandapan ini mungkin sudah jamak ditemui di kota besar seperti Jakarta. Tapi bagiku yang orang kabupaten, hampir tidak pernah menemui orang-orang yang secara kolektif melangkah gancang. Terlambat saja masih santai.

Kalau dari bird’s-eye view, saat lampu hijau menyala, para pedestrian itu tampak seperti sarang semut yang ditiup. Terlihat berhamburan ke sana kemari. Mereka menyeberang dari segala arah secara bersamaan.

Fakta populer yang aku dapat ialah:

(1) Dalam satu kali lampu hijau (sekitar 45–60 detik), sekitar 1.000 hingga 2.500 orang bisa menyeberang dari semua arah.

(2) Pada jam sibuk, bisa mencapai lebih dari 100.000 orang per hari.

(3) Terkenal sebagai simbol “keteraturan dalam kekacauan” Tokyo, dengan alur padat tapi tetap tertib.

Aku jadi bertanya-tanya mereka semua ini mau ke mana? Memang terlihat beberapa orang ada yang ngonten, berwisata, dan mungkin pulang kantor (terlihat dari setelannya).

Aku sempat mendekati patung Hachiko, patung anying yang terkenal di kawasan Shibuya. Patung ini menjadi salah satu magnet bagi mereka yang datang ke Shibuya. Aku baca-baca, patung Hachiko ini merupakan sebuah penghargaan untuk anying Akita yang setia menunggu pemiliknya di Stasiun Shibuya setiap hari bahkan setelah pemiliknya meninggal. Kisah lebih lengkapnya bisa browsing sendiri ya, Kak.

Sayang sekali, pas aku mendekat ke patung itu, ternyata sudah mengular antrean orang mau berfoto. Aku jadi malas untuk antre dan memilih download saja di Google.

Yang mengagumkan, meskipun yang mau foto-foto bukan orang Jepang tapi wisatawan, mereka bisa antre dengan rapi. Aku perhatikan juga tidak ada satpam atau pengatur antrean itu. Bisa jadi mereka ketularan budaya tertibnya Jepang ya guys. Kalau di negaraku, pasti tidak bisa antre rapi. Pasti ada saja ibu-ibu yang menyela sambil bilang, “Aku duluan ya, jemuran belum diangkat.”

Aku tiba di area ini sekitar pukul 17.00 JST dan tidak lama kemudian menyingkir karena sudah cukup lelah berjalan seharian. Selain itu, juga tidak ada bangku di emperan jalan yang enak dibuat duduk nongki-nongki sambil mengunyah cimol.

~Abede

Kontributor kabarseputarmuria di Tsukuba Jepang