Jepara – Desa Tedunan kecamatan Kedung saat ini menjadi salah satu desa penyangga pangan. Betapa tidak warga desa ini masih menekuni profesi menjadi petani khususnya tanam padi. Meski tanam padi hasilnya tak menjanjikan namun masih ada saja yang rela kerja keras menananm padi.

Salah satunya adalah Subardi ia mengaku usai nikah ia sudah terjun menekuni pekerjaan sebagai petani. Meski ia pernah merantau ke Jakarta sebagai pemborong bangunan namun setiap tahun ia tetap menggarap lahan sawahnya sendiri.

Bahkan pada tahun 2025 ini ia tidak saja menggarap lahannya sendiri . Namun berani menyewa lahan milik orang lain meski harganya sewanya cukup mahal. Tidak hanya soal mencari keuntungan semata namun rejeki yang berkah yang ia harapkan.

Pada tahun ini ia menggarap sawah sekitar 9 bau atau sekitar 5 hektar. Lahan sendiri sama lahan sewa  masih luas lahan sewa. Selain itu unuk pekerjaan harian tidak bisa tangani sendiri semua menggunakan tenaga kerja atau orang lain.

“ Saya sudah lebih 20 tahun menggarap sawah sehingga tahu seluk beluknya bisnis ini. Ketika masih muda ada pekerjaan di Jakarta sayapun masih menggarap sawah. Apalagi ini sudah taka da kesibukan di sana waktu semua saya curahkan untuk menggarap sawah “, aku Bardi.

Terkait usaha atau bisnis menggarap sawah Bardi mengatakan , ya masih banyak untungnya daripada ruginya. Namun keuntungan menggarap sawah tidak begitu besar dibandingkan usaha lainnya. Namun ada perasaan nyaman dan senang jika ke sawah melihat tanaman padi menghijau .

“ Ya kalau dihitung untung ya tipis  kebanyakan dua kali tanam biasanya yang hasilnya bagus hanya sekali tanam . Kalau dua kali tanam hasilnya bagus dan harganya tinggi nah itu baru bisa dapat untuk besar” kata Bardi.

Untuk kekuatan hasil lahan sawah di desa Tedunan ini rata rata perbau maksimal 5 ton . Jika harganya Rp 600.000 perkwintal hasil kotor Rp 30 jutaan. Untuk operasional sekitar Rp 20 jutaan karena lahan yang ia garam kebanyakan lahan sewa. Kalau 2 kali MT hasilnya bagus semua untungnya ya lumayan besar.

“ Namun yang saya alami dalam dua kali panen hanya satu kali panen yang bagus. Adapun kendala usaha tanam padi ini diantaranya kebanjiran atau kelebihan air , kekeringan atau kekurangan air selain itu juga hama ada hama tikus , wereng dan masih banyak lagi yang ,lainnya”, tambah Bardi.

Meskipun penuh lika liku dan berat Bardi telah memutuskan sampai hayatnya ia terus menggarap lahan sawahnya sendiri. Jika ada modal lebih ia tetap akan menggarap lahan dengan cara sewa. Ia sudah terlanjur nyaman sebagai petani apalagi saat ini tidak lagi merantau ke Jakarta.

Oleh karena itu ia berharap dukungan dan bantuan  pemerintah terutama Dinas Pertanian terkait usaha pertanian di desa. Misalnya dengan mengadakan penyuluhan terutama ketika ada kendala baik hama maupun teknis yang lain. Selain itu juga sarana dan prasarana pertania yang masih kurang.

“ Di desa Tedunan ini jalan usaha tani belum merata sehingga ketika panen di musim hujan masih kesulitan membaw hasil. Selain itu jembatan petanian juga masih minim. Contohnya ini jembatan bambu para petani swadaya untuk mengangkut hasil pertanian”, tutup Bardi .(Pak Muin)