Jepara  – Pertigaan , Protelon atau Bunderan Pecangaan dari dulu sampai sekarang menjadi icon Kota Pecangaan  yang terkenal sebagai penghasil karung goni. Di dalam buku , peta atau sumber lain Pecangaan merupakan salah satu daerah penghasil karung goni berbahan rosella. Namun Pabrik karung goni ini kini berubah menjadi pabrik karung plastic .

Protelon Pecangaan ini merupakan tempat yang strategis dan juga ramai dikunjungi orang. Tempat ini menjadi tempat pemberhentian penumpang untuk menuju desa desa seputaran pecangaan. Oleh karenanya selain banyak angkot yang ngetem ,banyak pula tukang ojek pangkalan yang nyanggong disini menunggu penumpang.

Salah satunya adalah Rif’an warga Pelang kecamatan Mayong yang setiap harinya mangkal di Bunderan Pecangaan. Selain dia masih ada puluhan tukang ojek lainnya yang mencari rejeki di tempat ini. Dari Bunderan ia mengantar kemana saja yang dikehendaki oleh .

“ Kalau ojek disini ya 24 jam mas kapanpun penumpang butuh diantar pasti ada teman-teman yang mangkal disini . Kalau saya sering pagi sampai siang. Ya ada yang ke Kedungmutih, Kedungkarang, Mutih , Bugel sampai dengan Menganti “, kata Rif’an pada kabarseputarmuria.

Rif’an menambahkan untuk tarif masing-masing jurusan belum ada kepastian tergantung kesepakatan atau yang sudah berjalan sejak dulu.Misalnya dari Pecangaan Ke Kedungmutih ongkosnya Rp 15 ribu – 30 ribu tergantung kondisi. Begitu juga untuk jurusan yang lain. Kadang bisa kurang karena penumpang menawar atau karena factor lain.

Menurut Rif’an bekerja sebagai tukang ojek belum bisa diandalkan untuk menghidupi keluarga. Oleh karenanya selain mengojek ia kerja serabutan misalnya sebagai makelar , atau kerja lainnya jika tidak mengojek. Ia mengojek sudah lebih 20 tahun dan mangkal di Bunderan Pecangaan ini.

Kepada pemerintah ia berharap ada pembinaan dan bantuan untuk tambahan penghasilan . Misalnya memberikan pelatihan usaha kepada para pengojek sehingga selain mengojek ia bisa mendapatkan penghasilan lainnya. Misalnya membuat kerajinan , berjualan makanan , dan usaha lainnya.

Hal sama juga dikatakan Fauzan pengojek dari desa Gerdu kecamatan Pecangaan. Pekerjaan sebagai tukang ojek ia jalani lima tahun. Ia mengganti nama orang lain seharga Rp 1.400.000. ia mengojek pagi sampai dengan  petang. Setelah isyak ia pulang ke rumahnya beristirahat.

“ Ya kalau untuk hidup sederhana kerja sebagai tukang ojek bisa pak , tapi untuk kebutuhan besar tidak bisa harus cari sambilan atau pekerjaan yang lain “, kata Fauzan. (Muin)