(Gambar Makan Mbah Mbolem Desa Kepuk, Bangsri Jepara)

Demak – Syekh Ahmad Yasin atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Desa Kepuk dengan sebutan Mbah mbolem merupakan salah satu tokoh leluhur yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah berdirinya Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara. Nama beliau hingga kini masih dikenal dan dihormati oleh masyarakat setempat.

Makam atau pesarean Mbah Mbolem berada di Dukuh Karang Sari yang juga dikenal dengan sebutan Kulon Mbolem, Desa Kepuk. Keberadaan makam tersebut tidak hanya menjadi tempat yang diziarahi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan budaya dan tradisi masyarakat Desa Kepuk.

Dalam cerita sejarah lokal Desa Kepuk, Mbah Mbolem dikaitkan dengan tokoh bernama Holem Agul-Agul. Kisah tersebut menyebutkan bahwa pada abad ke-17, ketika Sultan Agung dari Mataram berupaya menghadapi Belanda VOC yang menguasai wilayah pesisir utara, sejumlah pendekar dan prajurit Mataram ditugaskan untuk menjaga Pelabuhan Ujungpara. Salah satu tokoh yang disebut dalam cerita tersebut adalah Holem Agul-Agul. Oleh masyarakat setempat, nama tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Mbah Mbolem.

Mbah Mbolem dalam cerita masyarakat juga dikenal sebagai sosok yang membabad alas, yaitu membuka hutan atau wilayah yang sebelumnya masih berupa kawasan hutan untuk dijadikan tempat tinggal dan permukiman.

Dari proses tersebut, keberadaan Mbah Mbolem kemudian dikaitkan dengan awal terbentuknya Desa Kepuk. Oleh sebab itu, masyarakat setempat memandang beliau bukan sekadar sebagai tokoh yang dimakamkan di wilayah tersebut, melainkan sebagai salah satu leluhur yang memiliki jasa dalam sejarah terbentuknya Desa Kepuk.

Asal-usul nama Desa Kepuk juga memiliki kaitan dengan pesarean Mbah Mbolem. Dalam sebuah penelitian mengenai toponimi nama desa di Kecamatan Bangsri, disebutkan bahwa di bangunan pesarean Mbah Mbolem terdapat kekep, yaitu tutup yang terbuat dari tanah liat. Pada masa itu, kekep tersebut ditumpuk hingga berjumlah dua atau tiga buah.

Dari cerita mengenai kekep yang ditumpuk tersebut kemudian berkembanglah penyebutan nama Kepuk sebagai nama desa. Kisah tersebut menjadi salah satu cerita asal-usul yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Kepuk.

Kisah tentang Mbah Mbolem tidak berhenti pada sejarah penamaan desa. Simbol kekep yang terdapat di punden makam Mbah Mbolem kemudian berkembang menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Dalam tradisi tersebut terdapat ungkapan “dikekep terus diepuk-epuk” yang dimaknai berkaitan dengan nasi sekukusan dalam kegiatan manganan.

Masyarakat memaknainya sebagai doa dan harapan agar warga Desa Kepuk senantiasa memperoleh kehidupan yang berkecukupan. Dengan demikian, keberadaan Mbah Mbolem tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari simbol dan nilai kehidupan masyarakat setempat. Selain menjadi tempat ziarah, makam Mbah Mbolem hingga kini menjadi pusat pelaksanaan tradisi manganan, yaitu kegiatan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur masyarakat. Tradisi tersebut dilaksanakan di punden makam Mbah Mbolem dan menjadi salah satu warisan budaya Desa Kepuk.

Dalam perkembangannya, tradisi manganan juga menjadi bagian dari rangkaian Festival Memeden Gadhu yang diselenggarakan masyarakat Dukuh Karang Sari atau Kulon Mbolem. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menjaga kebersamaan, gotong royong, serta melestarikan budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Festival Memeden Gadhu yang berkembang di Desa Kepuk juga menunjukkan bagaimana kisah Mbah Mbolem terus hidup dalam kehidupan masyarakat modern. Festival tersebut dilaksanakan oleh masyarakat dengan mengangkat kreativitas warga, khususnya dalam membuat memeden gadhu atau orang-orangan sawah dari jerami.

Sebelum pelaksanaan festival, masyarakat dan panitia juga melakukan ziarah serta doa bersama di makam Mbah Mbolem. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menempatkan makam Mbah Mbolem sebagai bagian penting dalam rangkaian kegiatan budaya Desa Kepuk.

Terdapat pula versi cerita lain mengenai Mbah Mbolem yang berkembang dalam naskah film sejarah Janggrung. Dalam naskah tersebut, tokoh Mbah Mbolem disebut dengan nama Holen Van Sticher dan dikisahkan sebagai sosok yang tinggal di Desa Kepuk.

Dalam cerita tersebut, Ki Ageng Saji bersama tiga putri Sekar Kedaton yang sedang melakukan pelarian akhirnya tiba di Desa Kepuk dan berada di kediaman Mbah Mbolem. Ki Ageng Saji dan ketiga putri tersebut kemudian dikisahkan menjadi anak angkat Mbah Mbolem. Versi ini merupakan bagian dari cerita sejarah lokal yang berkembang dan memiliki perbedaan penyebutan dengan sumber lain yang mengaitkan Mbah Mbolem dengan Holem Agul-Agul.

Meskipun terdapat beberapa versi mengenai nama dan perjalanan hidup Mbah Mbolem, keberadaan beliau tetap memiliki tempat penting dalam ingatan kolektif masyarakat Desa Kepuk.

Makamnya menjadi bagian dari sejarah desa sekaligus pusat tradisi yang masih dilaksanakan hingga saat ini. Masyarakat tidak hanya mengenang Mbah Mbolem melalui cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga melalui kegiatan manganan, ziarah, dan Festival Memeden Gadhu yang menjadi identitas budaya Desa Kepuk.

Kisah Mbah Mbolem menjadi gambaran bagaimana seorang tokoh leluhur dapat terus hidup melalui sejarah, tradisi, dan kebudayaan masyarakat. Terlepas dari berbagai versi cerita yang berkembang, nilai yang dapat diambil dari kisah Mbah Mbolem adalah pentingnya menjaga warisan leluhur, kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta kepedulian terhadap identitas budaya desa.

Hingga kini, masyarakat Desa Kepuk terus menjaga keberadaan makam dan tradisi yang berkaitan dengan Mbah Mbolem sebagai bagian dari warisan sejarah dan budaya yang patut dikenalkan kepada generasi muda.