Jepara – Saat ini petambak garam di Jepara mulai menuai hasil . Tambak garam yang ia garap mulai bulan Mei lalu kini mulai di panen. Meski harus berlelah lelah dan berpanas panas setiap hari . Hal itu tak dihiraukan karena hasil sudah di depan mata,

Pantauan  area tambak di desa Kalianyar kecamatan Kedung kabupataen Jepara sudah lebih separuh tanah tambak panen garam. Sehingga kesibukan petambak setiap harinya kini hanya memungut garam dan menjalankan aliran air. Air yang dimasukkan petakan ladang setiap 4-5 hari sekali garam di pungut kembali,

“ Alhamdulillah pada bulan Juli ini tambak ini panen paerdana dan garam yang sudah dipanen kurang lebih 80 keranjang . Saai ini harga perkeranjang Rp 100 ribu . Jadinya ya udah ada uang masuk Rp 8 Juta. Hari ini ada 10 keranjang, 3 hari lagi 15 keranjang yang bagaian sana”, kata Srinoto petambak garam asal Kedungkarang Demak Nyang sewa lahan di desa Kalianyar Jepara.

Srinoto mengatakan ia mengarap lahan sewa selama 5 tahun dengan biaya sewa Rp 125 juta. Lahan yang disewanya dulu tanahnya rembes . Sehingga untuk mengawali usahanya di tempat itu ia butuh biaya dan waktu agar tambaknya jadi bagus.

“ Ini dulu lahan kurang produktif karena air sungai rembes ke tambak.Sehingga saya oleh dulu agar jadi rapat. Ya itu butruh waktu dan biaya .Hampir satu bulan saya garap lahan ini sehingga bisa seperti sekarang”, kata Srinoto.

Setelah lahan di tata seperti sekarang Srinoto optimius beaya sewa sebesar Rp 125 juta bisa terbayar tahun kedua atau ketiga. Sehingga untungnya akan dirasakan pada akhir masa sewa. Ia memang tak punya lahan garam sendiri . Namun dengan menyewa secara berpindah usahanya lancar.

Terkait harga garam pada bulan Juli ini sudah ada penurunan . Bulan Juni lalu yang sudah panen harga garam perkeranjang Rp 140 ribu . Namun seiring dengan  bertambahnya lahan yang di panen harga garam mengalami penurunan. Apalagi nanti kalau sudah panen semuanya harga akan turun di titik paling rendah..

“ Selama memproduksi garam krosok pernah mengalami harga garam Rp 20 ribu perkeranjang. Namun juga pernah menjual garam perkeranjang Rp 300 ribu . Itulah suka dukanya membuat garam seperti ini “, kata Srinoto menutup sua. (Pak Muin)