DEMAK, 20 Mei 2026 – Dalam upaya mendorong akselerasi digitalisasi dan memperluas jangkauan pemasaran produk lokal, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Angkatan 86 Posko 17 UIN Walisongo Semarang sukses menyelenggarakan program kerja pemetaan digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kegiatan inovatif yang berlangsung pada Selasa, 20 Mei 2026 ini berfokus pada pendaftaran dan pembuatan titik lokasi usaha para produsen rumahan di Desa Buko, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, ke dalam platform Google Maps.

Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam merespons tantangan pemasaran modern serta membuka gerbang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pesisir.

Desa Buko dikenal memiliki potensi maritim dan industri rumahan yang sangat melimpah. Berdasarkan data demografi terbaru, desa ini dihuni oleh 5.103 jiwa yang terbagi ke dalam 1.462 Kepala Keluarga (KK), dengan struktur wilayah administrasi yang terintegrasi ke dalam 3 dusun utama, yaitu Dusun Buko, Dusun Angin-Angin, dan Dusun Bongkol Indah.

Untuk memastikan seluruh pelaku usaha terdata dengan akurat, para mahasiswa berkolaborasi erat dengan perangkat desa, di mana daftar nama produsen diberikan langsung oleh masing-masing kepala dusun demi validitas data koordinat di lapangan.

Acara pemetaan digital ini mendapat respons positif dan dukungan penuh dari pemerintah desa setempat. Kepala Desa Buko, Bapak Al Munawar, S.Pd.I., menyampaikan apresiasi serta rasa terima kasih yang mendalam atas inisiatif program kerja yang diusung oleh para mahasiswa KKN UIN Walisongo.

Beliau menilai bahwa keterbatasan visibilitas digital selama ini menjadi salah satu hambatan utama bagi produk lokal untuk berkembang ke luar daerah.

“Kami dari pihak pemerintah desa sangat mendukung penuh kegiatan positif seperti ini. Kehadiran peta digital melalui Google Maps membuat produk unggulan Desa Buko tidak lagi hanya dikenal oleh tetangga antar-desa. Kami berharap, dengan adanya pemetaan ini, produk masyarakat bisa diakses langsung oleh konsumen maupun distributor luar daerah yang mencari produsen tangan pertama, sehingga ke depan dapat membantu meningkatkan pendapatan dan perekonomian keluarga di Desa Buko,” tutur Bapak Al Munawar, S.Pd.I.

Berdasarkan hasil pemetaan komprehensif yang dilakukan mahasiswa, profil ekonomi kreatif Desa Buko didominasi kuat oleh industri olahan hasil laut basah dan kering (gereh) yang mencakup 45% dari keseluruhan proporsi sektor usaha.

Selanjutnya, klaster aneka kerupuk dan peyek menempati porsi sebesar 30%, diikuti oleh sektor usaha kue dan catering sebesar 15%, serta sektor pengolahan tradisional lainnya sebesar 10%.

Di Dusun Angin-Angin, Kepala Dusun Ibu Sri Sabariningsih mendampingi jalannya pendataan terhadap berbagai jenis usaha yang bervariasi. Di wilayah ini, industri kerupuk mentah dan matang berkembang pesat, seperti usaha milik Ibu Warsini dan Ibu Isma.

Selain itu, terdapat pula produsen makanan ringan tradisional seperti onde-onde milik Ibu Sofiyah, kuliner peyek udang dan gimbal lokal, hingga industri rumahan pembuatan tempe yang dikelola oleh Ibu Sri Salamah.

Sementara itu, dominasi pengolahan maritim terlihat sangat menonjol di wilayah Dusun Bongkol Indah, khususnya di lingkungan RW 06 dan RW 08. Kepala Dusun Bongkol Indah, Zainuri, mengerahkan data para pelaku usaha makro dan mikro yang menjadi pilar ekonomi terbesar warga.

Melalui proker pendaftaran titik ini, lokasi produksi gereh (ikan asin) milik Ibu Wati, Ibu Tarmija, Ibu Daryati, Ibu Sri, Ibu Mastianah, Ibu Asripah, dan Kelompok Wanita Nelayan kini memiliki koordinat digital yang presisi.

Wilayah ini juga menyimpan potensi industri rumahan lain seperti ikan asin milik Ibu Ngatripah serta ikan panggang milik Ibu Suhami.

Di sisi lain, Dusun Buko yang dipimpin oleh Pak Ghofur memperlihatkan perkembangan yang signifikan pada sektor kuliner sekunder dan industri makanan olahan kreatif. Di dusun ini, mahasiswa memetakan beberapa titik usaha strategis, mulai dari industri pembuatan roti komersial Zidna Bakery milik Yani, industri kue bolu Madbasari, hingga sektor tradisional berupa produsen petis lokal yang dikelola oleh Pak Mudhofar dan Ibu Temu.

Harapan besar mengenai keberlanjutan dampak program ini turut diungkapkan oleh Ibu Sri Sabariningsih selaku perwakilan dari kepala dusun. Beliau optimistis bahwa integrasi teknologi ini akan menjadi modal awal bagi kemandirian ekonomi warga pesisir secara jangka panjang.

“UMKM kami di Dusun Angin-Angin dan dusun lainnya sebenarnya memiliki kualitas rasa, keunikan, serta ketahanan produk yang luar biasa dan layak bersaing di pasar yang lebih luas.

Kendala utama kami selama ini memang hanya terletak pada sektor pemasaran dan aksesibilitas tempat produksi yang masuk ke dalam gang-gang pemukiman. Dengan dibuatkan titik Google Maps ini, langkah awal menuju pemasaran modern yang lebih terbuka resmi dimulai, dan kami berharap perekonomian warga bisa semakin produktif,” pungkas Ibu Sri Sabariningsih.

Melalui sinergi yang kuat antara mahasiswa KKN UIN Walisongo, perangkat pemerintah desa, serta para kepala dusun, arsip data produsen Desa Buko kini tidak lagi sekadar menjadi catatan administratif statis. Data tersebut kini telah bertransformasi menjadi aset digital hidup yang siap mempermudah para pembeli dari luar daerah untuk bertransaksi langsung dengan para pengrajin lokal, sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa yang kreatif dan produktif.