Mas Pusak ( belakang ) naik sepeda kayu karyanya keliling kota Jepara
Jepara – Dalam gelaran Ngonthel Bumi Kartini ke 2 di Pantai Kartini Jepara ada salah satu kontingen yang membawa sepeda unik. SepedSeped0 berbahan dominal kayu jati dan nangka ini milik mas Tularno yang akrab di pangggi Pusak . Ke Jepara Mas Pusak membawa 4 sepeda kayu koleksinya.
“ Saya di rumah punya usaha mebel ketika corona orang banyak naik sepeda . Lalu saua punya ide mencoba buat sepeda kayu dengan model kuno sepeda Penny Furthing . Kalau tidak salah saya buat sepeda seperti ini tahun 2019 “, kala Mas Pusak pada kabarseputarmuria Rabu 3/12/2025
Sepeda yang diberi label INAKU dari kepanjangan Inilah Karyaku ini sudah melanglangbuana ke berbagai kota di Jawa. Meskipun berbahan kayu dipadukan dengan besi sebagai penggeraknya. Sepeda ini layaknya sepeda lain bisa dinaiki untuk meramaikan karnaval.
“ Selain untuk memperkenalkan kepada khalayak bahwa INAKU Adalah produk sepeda anak bangsa. Unik karena beerbahan dasar kayu selain itu bisa dinaiki atau laju seperti sepeda yang lain “, tambah Pusak.
Menurutnya sepeda sepeda berbahan kayu ini mudah untuk dinaiki . Sehingga siapa saja bisa naik berjalan jalan keliling kota dengan sepeda ini. Namun yang belum pernah sama sekali harus latihan keseimbangan agar tidak jatuh. Tetapi kalau sudah mahir malah keagihan .
Tujuan dari kehadirannya di Jepara Adalah memeriahkan nggowes bumi kartini ke 2. Selain tu juga memperkenalkan sepeda kayu kepada khalayak atau masyarakat. Dengan memanfaatkan bahan local berupa kayu bisa men jadi sepeda kuno yang nyeni dari segi disain .
“ Ya kalau yang mau memnbeli sepeda koleksi say aini saya jual . Selain itu jika ada yang pesan secara custom nanti kita buatkan sesuai pesanan. Untuk warga masyarakar dimana saja monggo silakan hubungi saya “, kata mas Pusak yang beralamat di desa warga Dukuh Sambimulyo, Desa Dompyongan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten
Suami dari Sumiyati alias Cicum ini menceritakan, ia mulai membuat pit kayu sejak pertengahan pandemi Covid 19. Jadi, sudah sekitar dua tahun ini. Sampai sekarang, ia sudah menghasilkan tiga karya pit kayu.
“Sementara untuk koleksi. Nanti juga dijual. Sampai sekarang belum pernah dijual. Masih di rumah. Karena harganya belum cocok. Kalau harganya bervariasi, dari Rp5 juta sampai Rp30 juta,” ungkapnya.
Pusak mengungkapkan, ia mulai berinisiatif membuat pit kayu saat pandemi Covid 19. Karena waktu itu banyak temannya yang gowes (bersepeda) dan harga sepedanya lumayan mahal.
“Saya sebenarnya juga mau beli sepeda (yang mahal) itu. Tapi kok eman-eman (sayang pada uangnya). Dan kebetulan, di rumah saya kan ada usaha meubel. Ada banyak kayu. Maka saya berinisiatif untuk membikin sepeda (dari) kayu,” paparnya.
Pit kayu buatan Tularno ini pun diapresiasi Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah Kadarwati. “Saya mengapresiasi pit kayu karya Mas Tularno ini.
Karya seperti ini perlu diperjuangkan hak paten atau hak atas kekayaan intelektualnya. Maka kita bersyukur, Peovinsi Jawa Tengah sudah memiliki Perda Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif yang salah satu pasalnya mengatur tentang pelindungan Hak Cipta dan Kekayaan Intelektual,” tandasnya.
