Jepara – Salah satu atau satu satunya pabrik garam beriodium di Jepara adalah milik H. Suhadak warga desa Kedungmalang kecamatan Kedung. Usaha bernama KUB Garam Iodium “Mutiara Laut” ini dirintis sejak tahun 2014. sampai saat ini usaha ini masih berjalan dan memproduksi garam iodium.
Pabrik yang terletak di pinggir jalan raya Kedungmalang – Jepara ini setiap hari rata rata memproduksi garam iodium 1,5 ton. Garam hasil petambak garam di Jepara diolah di pabrik dengan urutan di giling , di oven kemudian di campur dengan iodium lalu dikemas dan dipasarkan.
“ Untuk kemasan garam iodium yang saya produksi ini ada yang kemasan kecil kecil untuk dikonsumsi di pasar pasar. Ada juga yang karungan dengan beral mulai 20,25 hingga 50 Kg dan juga custom menurut kebutuan”, kata H. Suhadak (65) pada kabarseputarmuria Minggu 12/10/2025.
Suhadak mengatakan usaha yang dibangun 10 tahun lalu berawal dari pengampunan karena Jepara penghasil garam . Namun tidak ada yang membuka usaha pengolahan garam konsumsi beriodium. Dengan kondisi itu iapun ia bersama membuka usaha dengan bentuk Kelompok Usaha Bersama.
“Dengan kelompok usaha bersama inilah kami di support pemerntah pada tahun 2017 diberikan mesin mesin pengolah gara, iodium .Namun saat ini mesin mesin itu sudah kami perbaiki karena tidak tahan lama”, tambah H..Suhadak ,
Usaha itupun terus berjalan meskipun dalam kondisi ramai atau sepi tetap ia jalani. perolehan garam iodium dari mitra mitranya baik di dalam pulau Jawa atau luar jawa ia layani dari dulu hingga kini. Dengan kondisi itulah usahanya tetap berjalan hingga kini. Meski harga garam selalu tegang karena pasokan garam tidak berkurang.
“ Salah satu kendala yang menghadang usaha ini adalah inves untuk mesin pengolahan garam membutuhkan biaya yang besar. Karena mengolah garam mesin mesin cepat rusak sehingga membutuhkan modal untuk perbaikan dan pembelian mesin baru”, tambah H. Suhadak,
Ia berharap kembali ada bantuan dari pemerintah terutama peralatan untuk pengolahan garam seperti mesin penggiling, oven dan juga mesin iodosasi. Dengan adanya bantuan mesin itu keuntungan yang didapat bisa lebih besar.
“Sebenarnya usaha pengolahan garam ini cukup prospektif namun biaya pengolahan besar terutama mesin mesin harus selalu di upgrade. Jika mesin awet tentunya keuntungan lebih besar dan banyak yang membuka usaha ini”, kata H. Suhadak lagi.
Untungnya usahanya tidak hanya satu produksi garanm iodium saja, Namun usaha penjualan garam non iodium masih berjalan. Selain itu juga usaha produksi garam krosok dengan sistem sewa lahan .
“Kalau tidak ditopang usaha lain produksi garam ini bisa mati suri atau bangkrut. Harga garam yang tidak stabil membuat pengusaha harus pintar pintar memutar uangnya. Kalau tidak untung yang tidak diraih justru mengalami kerugian”, tambahnya.
Harga garam iodium menurut H. Suhadak terantung bahan bakunya. Kalau bahan baku tinggi harga jual juga tinggi . Kalau harga bahan baku turun, harga garam iodium juga ikut turun. Namun menurut dia harga garam iodum perkg Rp 6.500 dan paling rendah Rp 2.500 perkg saat ini Rp 3.500. (Pak Muin)