Jepara- Area pertambakan desa Kedungmalang kecamatan Kedung setiap waktu berkurangnya luas karena bencana abrasi. Tambak Tambak yang terimbas abrasi ada ratusan hektar. Salah satunya tambak milik Suharto warga Demak yang membeli tambak di area desa Kedungmalang
Ia membeli tambak tahun 2003 seharga Rp 40 juta . Pada waktu itu belum terimbas abrasi karena masih ada 3 tambak di bagian pinggir laut. Namun setelah berjalan sekitar 7 tahunan mulai abrasi menggerus tambak tambak di sebelah Barat dan Utara tambak miliknya.
“ Awalnya ya tidak terasa terus berjalan setiap tahun ketika musim penghujan tiba bulan Januari dan Pebruari. Selain ombak tinggi juga disertai angin yang kencag . Sehingga tanah tambak hilang perlahan lahan “, kata Suharto mengawali kisahnya Minggu 6/10/2025.
Abrasi terus berjalan kadang cepat kadang juga lambat . Makin lama mendekati tambak yang ia beli . Beberapa waktu akhirnya tambaknya mulai tergerus abrasi. Iapun berpikir bagaimana untuk menahan laju abrasi . Iapun menyewa bego untuk membuat tanggul menahan abrasi.
“ Namun setelah ditanggul tidak ada satu tahun tanggul itupun hilang di terjang ombak. Akhirnya saya ganti strategi mengganti tanggul dengan sampah sampah berupa kayu dan bambu yang terbawa arus ke pinggir “, tambah Suharto.
Suharto membuat tanggul tanggul dari sampah di bagian Barat dan juga Utara tambaknya sepanjang lebih 200 meter. Jika musim hujan ia kumpulkan kayu dan bambu di tepi pantai yang terbawa arus. Bambu bambu itu ia pasang di tepi tambaknya untuk penaham dan pemecah ombak.
“ Dengan cara ini selain mengirit biaya juga hasilnya lebih efektik kalau ditanggul dengan tanah dhembpas beberapa kali tanahnya longsor. Namun jika ditambak dengan kayu dan bambu kayu dam bambu mengapung dan ombak terpecah “, kata Suharto lagi.
Dengan teknik yang ia gunakan ini tambaknya saat ini masih bisa dimanfaatkan untuk memproduksi garam . Saat ini tambak Suharto adalah tambak terpinggir dari tambak tambak garam yang lainnya. Jika tambaknya hilang terkena abrasi tambak tambak di dekatnya juga ikut hancur .
“ Alhamdulillah tahun 2025 ini saya masih bisa menggarap tambak untuk membuat garam. Meski ketika musim penghujan dihantui oleh gerusan abrasi yang setiap waktu memnggempur tambak .Ombak musim penghujan begitu dahsyat mudah mudahan ada perhatian dari pemerintah “, harap Suharto.
Harapannya di bagian Barat dan Utara tambaknya pemerintah bisa menanam mangrove ketika air surut tiba. Dengan tanaman mangrove itu diharapkan bisa menghambat laju abrasi . Apalagi jika ke depan ada program tanggul laut sehingga tambak tambak yang belum terkikis abrasi lebih aman . (Pak Muin)