Jepara – Di desa Desa Petekeyan kecamatan Tahunan ada satu tempat yang dianggap cagar budaya desa. Tempat ini orang mengenalnya sebagai pundhen Dhori dan masih di jaga dan dirawat warga setempat, Di tempat ini setahun sekali di gelar  do’a bersama dan selametan yang jatuh pada bulan Muharam.

Pundhen Dhori ini letaknya di pinggir jalan raya Semat – Petekeyan. Ciri pundhen ini adalah ada pohon besar dan diberi tembok segi empat dengan dua pintu di depan dan belakang. Selain itu din bawah pohon besar ini ada batu batu nisan yang berserakan. Batu nisan tidak terbuat dari batu gunung namun berasal dari batu karang .

Dari batu batu nisan yang berserakan dan sebagian menyatu dengan akar pohon besar. Menunjukkan yang dimakamkan ditempat tersebut dahulunya tidak hanya satu . Namun karena lamanya situs ini ada sehingga batu batu nisan itu kemudian teronggok menjadi satu.

Bahkan dari batu batu nisan yang ada ada satu makam yang masih terlihat jiratnya. Namun jirat makam yang terbuat dari batu karang sudah tertimbun tanah. Bentuk dari nisan makam serta bahan bisan makam selayaknya yang ditemui di makam makam lama seperti astana Mantingan dan juga desa lain seperti makam tua desa Kedungmalang.

Dari peta desa Petekeyan lama yang diambil di situs perpustakaan Belanda. Menunjukkan bahwa tempat tersebut bertanda bulan sabit merah. Sedangkan bulan sabit merah dalam peta tersebut menunjukkan tempat pemakaman. Dalam peta lama desa Petekeyan itu masih ada beberapa tempat bertanda bulan sabit merah.

Takyin (65) warga desa Petekeyan pada kabarseputarmuria mengatakan , bahwa tempat tersebut sejak ia masih kecil sudah ada . Tempat tersebut orang menyebutnya sebagai Pundhen Dhori. Sedangkan apakah benar tempat tersebut pemakaman atau bukan ia kurang tahu.  Tetapi ia memastikan sejak dulu warga menganggap tempat tersebut bernilai sejarah sehingga di rawat keberadaannya.

“ Jaman kakek saya jadi kepala desa tempat itu sudah ada . Dahulu malah ada semacam tradisi tayuban atau kesenian jawa . Namun sekarang tetap di jaga dan dirawat dan masih ada yang menziarahi. Tidak hanya orang sini namun ada juga orang luar. Setahun sekali bulan Syuro ada acara Haul seperti di tempat lainnya “, kata Pak Takyin yang rumahnya tidak jauh dari Pundhen Dhori Petekeyan. (Pak Muin)