Jepara – Salah satu profesi warga Jepara yang semakin lama semakin berkurang peminatnya adalah Tukang Ukir . Order ukiran yang jarang serta murahnya pekerjaan membuat warga Jepara beralih profesi . Tak bekerja sebagau Tukang Ukir namun rela bekerja apa saja yang penting ada penghasilan.

Tidak hanya Tukang Ukir Laki Laki yang terimbas namun ratusan Tukang Ukir perempuan uga menemui hal yang sama. Mereka beralih profesi lain atau memilih mengurus rumah tangga. Namun sebagian pengukir perempuan masih bertahan meski upah tak bisa diharapkan.

Salah satunya ada Nafi’ah warga desa Petekeyan kecamatan Tahunan . Di teras rumahnya ia masih mengerjakan orderan Ukiran untuk kursi dan buffet dari tetangga depan rumahnya. Dengan meja sederhana ia kerjakan orderan sambil awasi anak-anak dan juga buka usaha teh pinggir jalan.

“ Kalau ngukir saya sejak MI sudah belajar ukir tetapi habis nikah mulai dapat uang untuk bantu suami. Kalau dulu upah ukir cukup lumayan . Kalau sekarang jauh turunnnya paling banter sehari dari pagi hingga sore dapat Rp 50 ribu “, kata Ibu Nafi’ah yang juga Guru TPQ Nafa Petekeyan Minggu 31/8/2025.

Turunnya penghasilan Tukang Ukir ,menurut Nafi’ah karena orderan ukiran kayu dari pemilik mebel sangat jarang. Kalaupun ada bentuknya kasaran dengan upah yang tidak begitu tinggi. Seperti yang jalani ini perpapan ia hanya dapat upah Rp 10 ribu . Setiap hari ia bisa menyelesaikan 3-4 papan.

“ Suami saya juga Tukang Ukir saat ini merantau ke Jawa Timur cari orderan ngukir dengan upah yang asgas tinggi. Kalaudisini ya dapatnya dikit hanya bisa untuk kebutuhan makan saja. Padahal kebutuhan keluarga lainnya masih banyak “ kata Nafi’ah lagi.

Nafi’ah menambahkan ia sehari hanya mendapatkan penghasilan paling besar Rp 50 ribu dari pekerjaan ukir . Meski minim tetap ia jalani karena taka da pekerjaan lain yang lebih tinggi hasilnya. Selain itu pekerjaan ngukir ini dikerjakan di rumah bisa ngawasi anak anak dan juga ngajar di TPQ di desanya.

“ Selain saya masih ada beberapa orang lagi pengukir perempuan , namun banyak yang berhenti cari kerja lain misalnya jualan. Selain itu anak anak muda perempuan saat ini tidak ada yang belajar ngukir . Semua kerja di pabrik yang upahnya lumayan dan setiap bulan bisa gajian “, tambah Nafi’ah.

Agar pekerjan Tukang Ukir diminati kembali setidaknhya ada jaminan pekerja ukir mendapatkan upah yang layak untuk kehidupan sehari sehari. Hal itu bisa terealisasi manakala kejayaan mebel ukir kembali di Jepara. Dengan permintaan barang mebel yang berkualitas dengan harga yang tinggi yang berimbas tingginya upah pekerja.

Itulah kenyataan di lapangan yang ada semakin berkurangnya pekerja perempuan  di sektor ukir karena jaman teah berubah. Jika tidak ada perubahan jaman banyak kemungkinan yang terjadi . Salah satunya adalah habisnya generasi pengukir perempuan di Jepara. Penyebabnya tidak adanya regenerasi pekerja ukir perempuan di Jepara. (Pak Muin)