Jepara – Hujan di bulan Agustus tahun ini membuat petambak garam di Jepara kesulitan memproduksi garam. Selain waktu tunggu panen cukup lama juga kualitas garam terus merosot. Namun demikian. petambak tetap menggarap lahan agar lahan bisa di panen lagi.
Setelah panas kembali selama 2 minggu lahan lahan tambak garam di Jepara mulai bisa di panen. Jika pengendara dari Semarang ke Jeparaa tau sebalikny lewat pantura Demak Jepara. Akan terlihat kristal kristal putih yang ada di tambak garam . Selain itu juga kesibukan panen dan angkut garam.
Salah satu lahan garam di Jepara adalah di desa Bulak Baru yang tinggal beberapa hektar setelah terkenan abrasi . Lahan garam ini sebagian mulai panen kembali setelah diguyur hujan 2 minggu. Sebagian lagi baru memasukkan air kembali untuk dijadikan kristal kristal garam.
Khotib pertambak garam asal desa panggung yang menggarap lahan di Bulak baru mengatakan, produksi garam pada tahun 2025 ini cukup sulit dan melelahkan. Penyebabnya adalah cuaca yang masih ada hujan di musim kemarau. Situasi ini telah diramal BMKG dengan menyebut kamarau basah.
“ Tahun 2024 lalu lancar tak ada hujan di tengah tengah panen raya. Sehingga setelah panen raya hasil garam terus naik. Tetapi sekarang hujan masih mengguyur sehingga hasil garam tidak maksimal. Selain bobot kurang juga kualitas garam juga tak bagus karena tercampur tanah “, aku Khotib.
Ketika ada hujan lanjut Khotib , air lahan garam kembali mudah bahkan salinitasnya 0. Sehingga perlu pengurasan kembali. Setelah diisi air perlu waktu tunggu lama untuk kembali panen lagi. Jika hujannya lebat memggenangi seluruh lahan garam butuh waktu 10 hari hingga 14 hari agar bisa panen lagi.
“ Untung ada geomembrane atau plastic hitam ini air dikuras langsung bisa diisi kembali. Kalau jaman dahulu pakai media tanah kalau hujan terus kayak begini ya otomatis lahan tak bisa digaram alias selesai “, tambah Khotib.
Dengan kondisi seperti ini untuk harga garam memang masih bertahan atau laku tinggi. Awal panen harga garam perkeranjang Rp 80 ribu , panen raya turun menjadi Rp 60 ribu . Namun setelah hujan ini laku Rp 100 ribu perkeranjang dengan bobot sekitar 80 Kg. Kalau panas bisa dipastikan turun harganya. Kalau hujan kembali mengguyur harga dipastikan naik,
“ Masalahnya harga garam belum ada strander dari pemerintah sehingga jika mura pernah Rp 20 ribu perkeranjag dan paling mahal pernah Rp 400 ribu perkeranjang “, tutup Khotib. (Pak Muin)