Surabaya – Di tengah cuaca yang tak menentu akibat kemarau basah, petani garam di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, justru merasakan angin segar. Harga garam yang melonjak signifikan menjadi berkah tersendiri, meskipun jumlah produksi belum bisa maksimal.
Ketua Kelompok Petani Garam Desa Kalibuntu, Suparyono, menyebutkan bahwa harga garam saat ini telah mencapai Rp1.100 per kilogram. Angka ini hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding harga beberapa bulan sebelumnya yang hanya berkisar Rp500 per kilogram.
“Kenaikan harga yang melebihi Rp1.000 ini juga didorong oleh kebijakan pemerintah yang mengurangi kuota impor garam, dari sebelumnya 2,5 juta ton menjadi 1,7 juta ton,” jelas Suparyono saat ditemui, Senin (26/5/2025).
Menurutnya, sebelum ada pengurangan impor, harga garam yang terlalu rendah membuat petani kesulitan untuk menutupi biaya operasional, apalagi memperoleh keuntungan. “Selama enam bulan kami tidak menikmati hasil dari produksi garam. Tapi sejak April, harga mulai naik menjadi Rp900, dan sekarang sudah menyentuh Rp1.100 per kilogram,” ungkapnya.
Meski harga membaik, tantangan tetap ada. Musim kemarau yang basah membuat proses produksi garam terganggu, sehingga jumlah panen tidak maksimal. Di Kalibuntu, para petani baru bisa melakukan panen sebanyak dua hingga tiga kali, dengan total produksi sekitar 132 ton. Garam tersebut dipasarkan di kawasan Tapal Kuda, wilayah timur Jawa Timur.
Meski demikian, Suparyono mengaku bersyukur. “Alhamdulillah, sekarang petani bisa mendapatkan keuntungan dua kali lipat dibanding sebelumnya. Harapan kami, harga ini bisa bertahan, dan kami terus berupaya meningkatkan kualitas garam agar bisa bersaing di pasar nasional,” tutupnya.
(Ahsan Faradisi , Tribun Jatim Timur)