Jepara — Di tengah derasnya arus tren kuliner modern dan global, salah satu makanan tradisional khas Jawa, pecel, justru kembali mendapatkan tempat istimewa di hati para remaja. Makanan sederhana berbahan dasar sayuran rebus yang disiram sambal kacang ini, kini mengalami kebangkitan popularitas, terutama di kalangan generasi muda.
Pecel telah lama dikenal sebagai kuliner rakyat yang identik dengan kesederhanaan. Namun kini, tampilannya yang semakin kekinian membuat pecel tak hanya menjadi menu harian, tetapi juga ikut mewarnai dunia kuliner modern. Di berbagai kafe dan warung kontemporer, pecel disajikan dalam mangkuk estetik dan dipadukan dengan berbagai lauk favorit anak muda seperti telur mata sapi setengah matang, ayam crispy, hingga tempe mendoan gurih.
“Aku suka banget pecel, apalagi yang sambalnya pedas. Rasanya bikin nagih dan sehat juga karena banyak sayurnya,” ujar Zahra (16), siswi SMA Negeri 1 Mayong.
Baginya, pecel bukan hanya soal rasa, tetapi juga pilihan makanan yang sehat dan mengenyangkan.Selain soal rasa, harga yang bersahabat di kantong menjadi daya tarik tersendiri. Dengan kisaran harga antara Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per porsi, pecel menjadi solusi makanan lezat, bergizi, dan ramah dompet bagi pelajar maupun mahasiswa.
Tidak heran jika makanan ini kian banyak dijumpai, tidak hanya di pasar-pasar tradisional, tetapi juga di festival kuliner, acara komunitas, bahkan dalam daftar menu aplikasi pemesanan makanan online.
Fenomena ini menandakan bahwa makanan tradisional tidak serta merta kalah pamor dibandingkan kuliner global seperti burger, sushi, atau ramen. Justru, ketika dikemas ulang dengan pendekatan yang lebih modern dan menarik, makanan lokal seperti pecel mampu bersaing dan bahkan menjadi tren tersendiri.
Pakar kuliner lokal juga menyebut bahwa kembalinya popularitas pecel adalah hasil dari meningkatnya kesadaran generasi muda akan pentingnya melestarikan budaya, termasuk dalam hal makanan. Pecel menjadi representasi identitas lokal yang tetap bisa dibanggakan dan dinikmati dalam berbagai konteks kekinian.
“Pecel itu bukan sekadar makanan, tapi bagian dari budaya Jawa yang harus dilestarikan. Anak muda sekarang pintar memadukan nilai tradisional dengan gaya hidup modern. Itu yang membuat pecel tetap hidup,” kata seorang pegiat kuliner tradisional di Jepara.
Dengan adaptasi dan inovasi yang terus dilakukan, pecel terbukti mampu bertahan dari terpaan zaman. Bukan tidak mungkin, ke depan makanan ini akan makin mendunia jika terus dipromosikan dengan cara yang tepat.
Pecel bukan sekadar kuliner masa lalu, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masa kini — lezat, sehat, dan sarat makna budaya.( Muhammad syafiul khoir )