Mesin pemotong padi sedang memanen padi salah satu petani di desa Karangaji
Jepara – Hujan bercampur angin yang melanda Jepara satu minggu terakhir ini membuat padi di area persawahan ambruk tak tertolong. Selain harus mengeluarkan biaya untuk menegakkan kembali. Ada beberapa petani yang terpaksa panen dini untuk menyelamatkan padi di sawah ,
Hal itu dikatakan Abdillah Fadlol Petinggi desa Karangaji kecamatan Kedung. Hujan bercampur angin membuat sawah yang hampir panen tanaman padinya ambruk . Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kembali menegakkan padi dengan diikat tali rafia.
“ Ya kalau dihitung petani yang padinya ambruk ada ratusan orang. Hari hari ini mereka butuh tenaga kerja untuk kembali menegakkan padinya agar bisa dipanen dengan mesin. Jika tidak ditegakkan dan diikat akan sulit dipotong dengan mesin”, kata Abdilah Fadlol Minggu 10 Maret 2024
Selain dengan cara diikat lanjutnya, petani di desa Karangaji ada yang memanen secara dini sawahnya untuk menyelamatkan padi yang sudah terlihat. Meski hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginan namun masih ada padi yang terselamatkan.
“ Jika dibuarkan terus dan menunggu tua bisa dipastikan padi akan rusak dan tidak ada hasil. Sehingga meski hasil tidak memuaskan sawah mereka terpaksa di panen dini “. tambahnya.
Abdillah Fadlol mengatakan,dibandingkan desa lain area persawahan desa Karangaji cukup luas . Setahun bisa dipanen dua kali dengan kondisi yang baik setahun terakhir ini. Oleh karena itu Pemdes Karangaji terus memperbaiki sarana prasarana pertanian. Selain saluran air yang baik , juga setiap tahun dibangun jalan usaha tani.
“ Untuk jalan usaha tani sebagai jalan tranportasi panen tinggal beberapa jalur saja . Dua tahun nanti diperkirakan petani yang akan memanen sawahnya tidak kesulitan membawa hasil menuju ke jalan . Gabah bisa diangkut minimal dengan kendaraan roda dua”, katamua lagi. (Pak Muin)