Jepara – Meskipun sekarang sudah memasuki jaman mellinium , namun masih ada tradisi yang berkaitan dengan menaikkan dan menurunkan perahu di pesisir Jepara. Perahu-perahu nelayan yang digunakan untuk melaut setiap hari . Pada waktu-waktu tertentu akan dinaikkan ke darat untuk diservis atau di cat ulang agar awet dan menarik.
Untuk perahu yang ukurannya besar menaikkan atau menurunkan perahu membutuhkan tenaga yang cukup banyak . Tidak hanya satu atau dua namun butuh orang hingga puluhan. Oleh karena itu ketika akan menaikkan atau menurunkan perahu satu hari sebelumnya sudah memberitahu pengurus Masjid.
“ Rata-rata perahu disini besar-besar sehingga jika mau dinaikkan atau diturunkan kembali perlu banyak orang untuk mendorongnya. Kita harus memberitahu pengurus masjid untuk diumumkan kepada paara nelayan “, ujar Nur Yatin nelayan asal desa Panggung kecamatan Kedung pada kabarseputarmuria.
Tradisi turun naik di desa pesisir Jepra adalah hal yang lumrah dan sudah ada sejak lama. Para nelayan hidup rukun dan bekerja bersama-sama. Dulu sebelum ada mesin satu perahu dijalankan minimal 2 orang. Namun dengan hadirnya mesin perahu ini bisa menghemat tenaga manusia. Tetapi untuk gotong royong naik turun perahu sejak dahulu hingga sekarang tidak berubah. Semua ikut bergerak agar perahu cepat naik atau turun dari sungai.
“ Nah setelah ada pengumuman dari Masjid maka semua nelayan yang ada dirumah dtang ke tempat peerbaikan peraahu . Untuk perahu yang akan di perbaiki maka dinaikkan ke darat,. Sedangkan peraahu yang selesai di perbaiki maka diturunkan ke air untuk melaut “, tambah Nuryatin.
Adapun biaya untuk menurunkan dan menaikkan perahu saatu kali sekarang Rp 50 ribu . Uang itu selanjutnya dimasukkan ke dalam kas Masjid dan Madrasah desa setempat. Sehingga yang mempunyai perahu tidak memberikan imbalan kepada sesama nelayan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Dengan cara ini ada pemasukan kas untuk Masjid dan Madrasah.
Dalam setiap bulannya pasti ada perahu warga yang di turunkan atau di naikkan. Paling lama enam bulan sekali perahu nelayan harus dibersihkan dn di cat ulang agar awet. Untuk pengecatan ini paling lama satu bulan. Selain itu ada juga rehap perahu misalnya ada beberapa bagian perahu yang harus diganti. Waktu yang dibutuhkan agak lama paling cepat 3 bulan baru selesai.
“ Ya seperti hari ini ada tiga perahu yang dinaikkan dan di turunkan , sehingga hari ini ada pemasukan ke kas Masjid sebesar Rp 150 ribu. Setiap hari Jum’at ada laporan tebtang pemasukan ke kas Masjid “, tambah Nur Yatin. (Muin)