Demak – Petambak garam di desa Kedungkarang kecamatan Wedung salah satu sentra garam di kabupaten Demak kini panen raya . Seluruh petambak garam kini sudah mulai menuai hasil. Jika kita melihat seluruh hamparan tambak terlihat Kristal putih di dalam lahan . Selain itu juga terlihat kantong kantong plastic di lahan yang berisi garam.
“ Ya akhir bulan Juni ini seluruh petambak garam sudah menuai hasil , mareka sudah “Nggaruk” garam di masing masing lahannya. Ada yang sudah panen sebelum lebaran kemarin dan sudah merasakan hasil yang lumayan banyak. Kalau saya ya Rp 10 juta sudah saya rasakan “, kata Abdul petambak garam dari desa kedungkarang pada kabarsepurmuria.
Abdul mengatakan setelah penggunaan geomembran ini petambak garam cukup tertolong dengan cuaca yang kurang bersahabat. Meskipun cuaca panas mendung namun dengan penggunaan geomembran ini bisa mempercepat proses panen garam. Oleh karena itu meskipun harga geomembran mahal bukan menjadi halangan petambak garam untuk membelinya,
“ Habis bagaimana lagi kalau tidak menggunakan geomembran ya lama panennya , meski mahal ya tetap saya beli. Ini saya beli yang tipis untuk menghemat biaya “, tambah Abdul.
Ketika ditanya harga garam Abdul mengatakan , harga jual garam terus turun setelah panan raya ini. Contohnya ia pertama kali menjual garamnya satu zak dahlia dihargai Rp 70 ribu , namun seminggu setelahnya harga menjadi Rp 45 ribu. Ia tidak tahu mengapa harga garam terus turun. Karena butuh untuk biaya operasional seperti membeli membrane dan kebutuhan harian rumah meski turun garam tetap di jual.
“ Ya itulah yang menjadi problem petambak garam di sini , harga garam yang selalu turun manakala panen raya . Inilah yang diharapkan bantuan kepada pemerintah bagaimana harga garam tidak turun dengan cepat. Jika ini tidak dikendalikan bisa bisa harga garam terpuruk kembali”, harap Abdul. (Muin)