Demak – Bagi anda masyarakat perkotaan yang jenuh dengan hiruk-pikuk metropolitan, kini ada satu lagi destinasi wisata alam di Kabupaten Demak solusi penghilang penat. Objek wisata baru cukup instagramable itu bernama Track Ekowisata Mangrove Desa Babalan.

Yang tak hanya menyediakan spot-spot foto layak posting di media sosial, namun juga sensasi menelusuri sungai berpagar hijaunya mangrove menggunakan perahu nelayan lokal.Selain kita menikmati pemandangan hijaunya tanaman mangrove . Juga bisa menyalurkan hobi memancing.

“ Selain tracking berkeliling hutan mangrove yang cukup panjang , pengunjung bisa juga memancing di tempat ini dengan spot spot memancing yang bagus “ kata Rohmad Koordinator Sibat PMI desa Babalan.

Ekowisata ini sepenuhnya dikelola oleh  Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) Desa Babalan binaan PMI Demak. Babalan termasuk desa pesisir yang rentan akan bahaya abrasi. Namun  dengan konservasi alam berwawasan lingkungan mengutamkan konservasi alam . Bahaya brasi sedikit tertahan terutama denga  penanaman mangrove.

Dukungan PMI Demak dan Amcross melalui program pemberdayakan masyarakat, yang mau dan peduli kelestarian lingkungan dengan penanaman mangrove, perlahan tapi pasti pesisir Desa Babalan, Berahan Wetan dan Kedungmutih semakin menghijau oleh mangrove. Bahkan dengan pendampingan sejumlah ahli dari IPB, tingkat keberhasilan penanaman benih mangrove atau bakau di tiga desa pesisir itu terpantau antara 96 hingga 98 persen.

Dengan rimbunnya tanaman mangrove akhirnya   muncul ide masyarakat mengelola kawasan konservasi mangrove itu sebagai destinasi ekowisata. Rumah edukasi (reduksi) mangrove di Kedungmutih yang fokus pada edukasi soal mangrove dan budi daya kepiting, serta Track Ekowisata Mangrove di Babalan.

Ketua PMI sekaligus Sekda Demak dr H Singgih Setyono MMR disela sela acara peresmian obyek wisata di Babalan menyampaikan, apresiasi atas kreativitas dan sinergitas antara relawan SIBAT dan Pemerintah Desa Babalan. Sebab kegiatan yang awalnya dimaksudkan menyiapkan masyarakat pesisir tangguh bencana, berkembang prositif menjadi ekowisata.

” Kita patut berikan acungan jempol dan dukungan pemerintah daerah karena di dalamnya muncul aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal. Di samping aspek pembelajaran dan pendidikan bagi masyarakat umum, khususnya terkait budidaya mangrove,” kata Singgih Setyono, Rabu (16/5) seperti dikutip dari Wawasan.co .

Di tempat yang sama  Wabup H Joko Sutanto berharap, pengelolaan ekowisata dilakukan secara profesional. SIBAT maupun pemerintah desa tidak bisa bekerja sendiri, maka itu pengelolaan Track Ekowisata Babalan  harus dilaksanakan secara komprehensif. Semua komponen harus bekerja bersama untuk mengelola obyek wisata yang baru agar mendapat kunjungan wisatawan.

Fasilitas yang mendukung hendaknya juga lengkap agar memudahkan para calon wisatawan atau pengunjung. Mulai dari akses jalan hingga ketersediaan lahan parkir, dilengkapi pengaman baik pada perahu maupun track yang dibangun. Hingga pemeliharaan kebersihan, yang harus benar-benar diatur tegas sehingga pengunjung nyaman.

Untuk menuju ke obyek wisata tracking hutan mangrove cukup mudah . Anda terlebih dahulu sampai ke desa Babalan .Jika dari Demak pengunjung bisa melanjutkan perjalanan ke Wedung –Bungo – Menco dan sampai desa Babalan. Jika dari Utara Kudus atau Jepara – Pecangaan – Kedungmalang – Babalan.

Nah jika sampai desa Babalan tepatnya Jembatan anda akan disambut tim Sibat PMI Babalan untuk mengantarkan anda ke obyek wisata tracking mangrove . Karena menggunakan perahu untuk menuju ke hutan mangrove diperlukan rombongan paling sedikit untuk 10 orang. Setelah terkumpul 10 orang baru diberangkatkan ke tempat yang dituju.

“ Untuk biaya masuknya hanya Rp 2.000 , sedangkan biaya antarnya  kalau 10 penumpang lebih hanya Rp 5.000. Namun jika tidak terpenuhi kuota maka biaya antar bisa lebih. Saya sarankan kalau kunjungi tracking hutan mangrove ini bisa rombongan adapun jam bukanya mulai jam 08.00 – 17.00 “, kata Rohmad . (Muin)