Bagian dari Program Sekolah Adiwiyata, Ubah Limbah Dapur Jadi Cairan Multifungsi

Foto bersama mahasiswa MKT, pembina, dan kader Adiwiyata SMAN 1 Kota Mungkid setelah mengikuti sosialisasi dan pelatihan pembuatan eco-enzyme.

MAGELANG – Puluhan siswa SMA Negeri 1 Kota Mungkid mendapatkan pelatihan pembuatan eco-enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik yang memiliki beragam manfaat. Pelatihan ini menjadi salah satu materi dalam kegiatan Sosialisasi Branding Sekolah Adiwiyata yang digelar di Ruang Pertemuan SMAN 1 Kota Mungkid, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 60 siswa Kader Adiwiyata tersebut merupakan bagian dari upaya penguatan peran kader Adiwiyata dalam menghadapi isu perubahan iklim dan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Selanjutnya, dilakukan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan eco-enzyme yang dinarasumberi oleh Mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SMAN 1 Kota Mungkid, Wahyu Langgeng Prastiyo, S.Pd.Gr., mengatakan program Adiwiyata menjadi salah satu program unggulan sekolah untuk membentuk siswa yang peduli dan berbudaya lingkungan. Dalam sambutannya, beliau turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa MKT Universitas Tidar yang turut serta berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan tersebut.

“Kami mengajak seluruh peserta menjadi agen perubahan yang mampu menerapkan dan menyebarluaskan perilaku peduli lingkungan, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” ujarnya saat membuka acara.

Dalam kegiatan berjudul “Eco-Enzyme: Cairan Organik Segudang Manfaat”, narasumber menjelaskan bahwa eco-enzyme dibuat dari fermentasi sisa kulit buah atau sayur, gula merah atau molase, dan air dengan perbandingan 3:1:6. Proses fermentasi berlangsung sekitar satu sampai tiga bulan hingga cairan siap digunakan.

Eco-enzyme yang dihasilkan tersebut memiliki banyak kegunaan, mulai dari pembersih alami lantai dan kaca, pupuk cair untuk menyuburkan tanaman, hingga alternatif pengusir hama. Selain itu, pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme juga dinilai mampu membantu mengurangi pencemaran air limbah rumah tangga.

Siswa juga diajak mempraktikkan langsung tahapan pembuatannya, mulai dari menyiapkan wadah bekas yang bersih dan tidak bocor, mencampurkan bahan sesuai takaran, memberi label tanggal pembuatan, hingga menyimpan campuran di tempat sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung selama masa fermentasi.

Narasumber turut mengingatkan sejumlah hal yang perlu diperhatikan selama proses fermentasi, di antaranya tidak mencampurkan minyak atau bahan bersantan, menyisakan sekitar sepertiga ruang kosong pada wadah untuk menampung gas fermentasi, serta tidak membuka dan mencium wadah setiap hari.

Antusiasme peserta terlihat tinggi selama sesi berlangsung. Sejumlah siswa turut bertanya seputar pemanfaatan eco-enzyme sebagai bahan detergen alami hingga potensi pengelolaannya dalam skala yang lebih besar.

Melalui pelatihan ini, sekolah berharap siswa dapat menerapkan pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat budaya peduli lingkungan sebagai bagian dari komitmen SMAN 1 Kota Mungkid dalam mewujudkan Sekolah Adiwiyata.