SEMARANG ROWOBONI, 12 Agustus 2026 – Sampah organik rumah tangga mulai diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali oleh ibu-ibu PKK Desa Rowoboni melalui pelatihan Pembuatan Eco-Enzyme. Tidak hanya memperoleh penjelasan secara teori, peserta juga mempraktikkan langsung proses pembuatan Eco-Enzyme bersama mahasiswa KKN hingga menghasilkan produk yang diproyeksikan dapat dipanen setelah proses fermentasi sekitar tiga bulan.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 58 Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) ke-22 UIN Walisongo Semarang di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Kegiatan dihadiri oleh Ibu Uswatun Khasanah selaku Ibu Lurah sekaligus Ketua PKK Desa Rowoboni beserta Ibu-ibu anggota PKK Desa Rowoboni.
Pelatihan Eco-Enzyme menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN untuk mengenalkan alternatif pengelolaan sampah organik yang dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Melalui kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada proses pemanfaatan bahan organik melalui fermentasi hingga menjadi Eco-enzyme. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Panitia, Amalia Risfianti. Selanjutnya, Ibu Uswatun Khasanah selaku Ibu Lurah Desa Rowoboni sekaligus Ketua PKK Desa Rowoboni memberikan sambutan kepada peserta.
Dalam sambutannya, Ibu Uswatun menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kegiatan mengenai Eco-enzyme. Ia sebelumnya telah mengikuti kegiatan serupa di tingkat Kecamatan Banyubiru sekitar dua bulan yang lalu.
“Sebelumnya saya pernah mengikuti kegiatan Eco-enzyme di Kecamatan Banyubiru sekitar dua bulan yang lalu. Malam ini saya kembali berkesempatan untuk belajar bersama teman-teman KKN dan ibu-ibu PKK Desa Rowoboni. Semoga apa yang kita pelajari bersama ini dapat bermanfaat dan bisa diterapkan di lingkungan kita,” ujar Uswatun Khasanah.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu dorongan untuk kembali mengikuti kegiatan serupa bersama masyarakat Desa Rowoboni. Selain menjadi ruang belajar, kegiatan ini juga mempertemukan mahasiswa KKN dengan ibu-ibu PKK dalam membangun kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan.
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Aldi Dwi Saputra, mahasiswa KKN Posko 58 MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang. Materi yang disampaikan berfokus pada pengenalan Eco-enzyme serta proses pembuatannya. Penyampaian materi menjadi tahap awal sebelum peserta melakukan praktik secara langsung.
Setelah memperoleh penjelasan, ibu-ibu PKK kemudian mengikuti praktik pembuatan Eco-enzyme dengan didampingi oleh panitia KKN. Peserta terlibat langsung dalam proses pembuatan, sementara mahasiswa membantu memberikan arahan pada setiap tahapan yang dilakukan. Metode praktik langsung menjadi bagian penting dalam pelatihan karena peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam membuat Eco-enzyme. Dengan demikian, kegiatan diharapkan dapat menjadi bekal awal bagi ibu-ibu PKK apabila ingin mencoba membuat Eco-enzyme secara mandiri di rumah.
Aldi Dwi Saputra menjelaskan bahwa hasil dari proses yang dilakukan dalam pelatihan tidak dapat langsung digunakan karena membutuhkan waktu fermentasi.
“Hasil dari pembuatan Eco-enzyme ini membutuhkan proses fermentasi kurang lebih tiga bulan sebelum dapat dipanen. Jadi, kegiatan malam ini bisa menjadi langkah awal bagi ibu-ibu PKK untuk mencoba membuat Eco-enzyme secara mandiri dan memahami prosesnya dari awal,” ujar Aldi Dwi Saputra.
Proses fermentasi yang membutuhkan waktu sekitar tiga bulan membuat kegiatan ini tidak berhenti pada saat pelatihan selesai. Hasil praktik yang telah dibuat menjadi bagian dari proses lanjutan yang membutuhkan perhatian dan pemantauan hingga masa panen. Hal tersebut sekaligus memperkenalkan kepada peserta bahwa pengelolaan sampah organik membutuhkan proses dan konsistensi. Pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan dapat menjadi dasar bagi masyarakat untuk mulai mencoba pengolahan sampah organik secara mandiri.
Bagi mahasiswa KKN, pelatihan ini juga menjadi bentuk pengabdian yang mengedepankan transfer pengetahuan kepada masyarakat melalui praktik langsung. Sementara bagi ibu-ibu PKK, kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk mengenal proses pembuatan Eco-enzyme secara lebih dekat.
Ibu Uswatun Khasanah berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Rowoboni.
“Harapannya, kegiatan ini tidak hanya selesai malam ini. Ibu-ibu bisa mencoba kembali di rumah dan memanfaatkan pengetahuan yang sudah didapat bersama teman-teman KKN. Semoga kegiatan ini bisa memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat Desa Rowoboni,” ungkapnya.
Pelatihan Eco-enzyme yang berlangsung selama kegiatan KKN ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan pengelolaan sampah organik kepada masyarakat melalui kegiatan yang sederhana dan aplikatif. Keterlibatan langsung ibu-ibu PKK membuat proses pembelajaran berlangsung secara bersama-sama, dengan mahasiswa KKN berperan sebagai pemateri sekaligus pendamping praktik.
Hasil pembuatan Eco-enzyme dalam kegiatan tersebut selanjutnya membutuhkan waktu fermentasi kurang lebih tiga bulan sebelum dapat dipanen. Selama proses tersebut, pemantauan akan dilakukan oleh ibu Rumaekah untuk memastikan proses fermentasi tetap berjalan setelah memasuki masa panen, hasil Eco-enzyme tersebut akan dibagikan kepada ibu-ibu PKK yang terlibat dalam kegiatan sebagai hasil Bersama dari praktek yang dilakukan.
Dengan adanya pengalaman praktik tersebut, ibu-ibu PKK Desa Rowoboni diharapkan memiliki pengetahuan awal untuk mencoba membuat Eco-enzyme secara mandiri. Kegiatan ini sekaligus membuka peluang bagi keberlanjutan edukasi pengelolaan sampah organik di lingkungan masyarakat.
Pelatihan Eco-enzyme KKN Posko 58 MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang di Desa Rowoboni tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan praktik langsung yang menghasilkan bahan fermentasi untuk dipanen sekitar tiga bulan mendatang. Bagi ibu-ibu PKK, kegiatan tersebut menjadi pengalaman awal untuk mengenal dan mencoba proses pembuatan Eco-enzyme secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap pengetahuan yang diberikan dapat terus diterapkan oleh masyarakat setelah program KKN berakhir. Dengan dimulai dari langkah sederhana di lingkungan rumah tangga, edukasi mengenai pemanfaatan sampah organik diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Rowoboni.
TAG:
- Pelatihan Eco-Enzyme
- KKN UIN Walisongo
- Eco-Enzyme Desa Rowoboni
- PKK Desa Rowoboni
- Pengelolaan Sampah Organik