Magelang  – Rendahnya kemampuan numerasi dan literasi sains peserta didik yang tercermin dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menjadi tantangan yang serius dalam dunia pendidikan Indonesia termasuk di Kabupaten Magelang.

Menanggapi kondisi tersebut Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Tidar (Untidar) meluncurkan program inovatif dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat bertajuk SMATH (Science and Mathematics Hands-on Activity) di dua madrasah, yaitu MI Al Ulum Bandongan dan MI Al Muta’alimin Sukosari.

Adapun tim pengabdian tersebut terdiri atas dosen Universitas Tidar, yaitu Ayu Lestari, M.Pd., Dita Aldila Krisma, M.Pd., Dea Santika Rahayu, M.Pd., dan Paskalia Pradanti, M.Pd., serta anggota dari mahasiswa Michael Gary Krisna Wijaya dan Angga Setiawan. Kegiatan ini didanai dan didukung penuh oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Tidar.

Berdasarkan analisis situasi yang dilakukan oleh tim PkM Untidar menunjukkan bahwa minat belajar peserta didik di Magelang terhadap mata pelajaran matematika dan IPA (Sains) masih tergolong rendah. Kedua mata pelajaran ini kerap dianggap sebagai “momok yang menakutkan dan membosankan” karena materi yang disajikan terlalu teoritis dan abstrak.

“Kami menemukan bahwa aktivitas pembelajaran sains dan matematika di sekolah mitra jarang melibatkan kegiatan praktik langsung (hands-on),” ujar Ayu Lestari selaku ketua tim PKM Untidar.

Selain itu berdasarkan hasil observasi adanya keterbatasan alat dan bahan serta metode pengajaran yang berfokus pada hafalan membuat konsep-konsep penting menjadi sulit dipahami dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Hal ini tentunya menjadi perhatian bagi tim PkM Untidar untuk berupaya memberikan solusi agar minat sains dan matematika peserta didik dapat meningkat. Kondisi ini sejalan dengan pernyataan Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang menekankan pentingnya mengejar ketertinggalan skor PISA dengan meningkatkan antusiasme peserta didik terhadap sains dan numerasi.

Untuk membalikkan anggapan negatif tersebut, program SMATH menawarkan solusi dengan pendekatan “Hands-on Activity”. Pendekatan ini mengajak peserta didik untuk belajar melalui pengalaman langsung, seperti mengamati objek, memecahkan masalah secara langsung, memahami konsep, dan mengambil kesimpulan sendiri, alih-alih hanya mendengarkan ceramah guru.

Dalam program SMATH, peserta didik diajak melakukan aktivitas fisik melalui metode kreatif pada mata pelajaran matematika. Sementara itu pada mata pelajaran sains peserta didik melaksanakan eksperimen sederhana.

“Melalui ‘hands-on activity’, peserta didik tidak lagi hanya menghafal rumus, tetapi benar-benar melihat bagaimana matematika dan sains bekerja di dunia nyata,” tambah Paskalia.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan mengembangkan materi pembelajaran sains dan matematika berbasis hands-on activity, meliputi penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk kegiatan membuat lava dan ketapel, serta penyiapan angket evaluasi.

Selain itu dilakukan persiapan alat dan bahan yang selanjutnya dirakit lalu diverifikasi melalui uji coba oleh tim PKM untuk memastikan keberhasilan kegiatan yang akan dilakukan.

PKM ini melibatkan peserta didik dalam dua kegiatan secara aktif. Kegiatan pertama yaitu pembuatan lava dengan peserta diajak melakukan simulasi letusan gunung berapi. Kegiatan ini menjadi media pengenalan konsep fenomena alam (sains) sekaligus pengaplikasian materi bangun ruang dan pengukuran (matematika).

Kagiatan yang kedua adalah pembuatan ketapel dengan peserta didik secara berkelompok merakit ketapel, dari situ mereka mempelajari prinsip dasar pesawat sederhana (sains) dan praktik menghitung pengukuran, sudut, dan jarak (matematika).

Di akhir kegiatan, dilaksanakan evaluasi dengan mengumpulkan umpan balik melalui angket yang diisi oleh peserta didik untuk mengukur tingkat kepuasan mitra serta minat peserta didik terhadap sains dan matematika. Ketercapaian kegiatan PkM ini terlihat dari peningkatan minat peserta didik terhadap pembelajaran sains dan matematika. Selain itu adanya kegiatan ini mampu mengembangkan keterampilan proses sains dan matematika peserta didik. Hal ini selaras dengan pernyataan Kepala MI Al Muta’alimin Sukosari yang menyatakan bahwa kegiatan pengabdian dapat berdampak baik bagi minat belajar peserta didik terkhusus pada mata pelajaran sains dan matematika.

Tim PkM Untidar optimis bahwa melalui program SMATH, peserta didik di MI Al Ulum dan MI Al Muta’alimin akan mulai melihat sains dan matematika sebagai pelajaran yang menarik, relevan, dan menyenangkan, sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan prestasi di tingkat nasional maupun internasional.