Jepara – Salah satu pengusaha ikan asin di desa Kedungmalang RT 5 RW 3  kecamatan Kedung kabupataen Jepara adalah Pak Bajuri . Sudah lebih 5 tahun pak Bajuri menekuni usaha pengolahan ikan asin ini. Di gubug kecil samping rumahnya ada aneka ikan asin kering yang siap jual.

Pagi hari itu pak Bajuri mengeringkan ikan gerabah. Di dalam wadah yang terbuat dari anyaman bambu ikan gerabah yang sudah diambil isinya kemudian ditata rapi. Adalebih sepuluh tempat wadah ikan yang digunakan untuk menjemr ikan gerabah.

Wadah yang disebut gadang itu di buatkan tempat khusus yang ada tiangnya. Sehingga ikan yang dikeringkan jauh dari tanah . ketika ikan sudah kering kondisinya bersih . Selanjutnya di bungkus dalam plastik dan disimpan dalam gubung.

“ Kalau ini ikan gerabah kalau kering perkilonya Rp 30 Ribu . Sedangkan ini ikan bloso perkilonya Rp 25 ribu . Ikan ikan ini semua hasil dari nelayan warga desa Kedungmalang . Jika kondisi ramai perhari bisa olah hingga 50 Kg “, kata pak Bajuri pada kabarseputarmuria Rabu 15/10/2025

Ikan ikan kering yan siap jual biasanya akan di ambil oleh para bakul atau tengkulak. Pak Bajuri dan istrinya hanya focus untuk memproduksi ikan kering. Untuk pemasarannya mengandalkan bakul yang datang ke rumah setiap waktu.

Ikan kering yang di produksi pak Bajuri dan warga desa Kedungmalang lain . Oleh para bakul dijual kembali ke pasar pasar tradisional di area Jepara , Demak dan Kudus. Ikan kering ini laku keras jika musim poenghujan dan juga ketika banyak orang yang punya gawe.

“ Kalau pemasaran kita tidak sempat memasarkan ada khusus para bakul yang membeli ke sini. Setelah itu dijual kembali ke pasar pasar di Jepara misalnya pasar Pecangaan, Kalinyamatan , Pasar Ngabul dan pasar Mayong. Ada juga yang di bawa ke Kudus dan Demak “, tambah Pak Bajuri.

Usaha pengolahan ikan yang ditekuni oleh pak Bajuri dan istrinya minim resiko. Selain Pak Bajuri masih ada beberapa warga desa Kedungmalang yang berusaha sama yaitu mengolah ikan asin. Jika dihitung ada 10 an warga , Namun sayangnya mereka belum tergabung dalam kelompok usaha.

“ Ya modal sendiri cari cari kalau tak ada ya pinjam . Untuk bantuan pembinaan belum ada , Katanya sudah ada bantuan namun saya tak dapat malah diberikan yang tidak punya usaha. Inginnya sih ada bantuan entah modal atau alat untuk mengolah ikan “, kata pak Bajuri lagi.

Meski tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah namun Pak Bajuri dan beberapa warga lain yang mempunyai usaha pengolahan ikan ini tetap berproduksi. Mereka mengandalkan modal sendiri dan modal pinjaman ke lembaga keuangan seperti koperasi ,bank dan lainnya. Ketika butuh modal mereka menjaminkan barang berharganya.

“ Paling kalau nggak ada uang dagangan banyak ya nggadaikan perhiasan di Koperasi atau pinjam keluarga. Kalau anti ikan kering sudah laku ya pinjaman dikembalikan begitu terus ‘, tambah Pak Bajuri . ( Pak Muin)