Kudus – Di Kudus ada tempat yang namanya Tugu Telon dan tempat ini cukup bersejarah yang berkaitan dengan Kudus jaman Dulu. Mengapa disebut Tugu Telon ? karena tempat ini merupakan perbatasan 3 desa dan tiga kecamatan.

Tiga desa itu masing masing desa Purwosari kecamatan Kota Kudus, Desa Prambatan kecamatan Kaliwungu dan desa Pasuruhan Lor kecamatan Jati. Nah di tanah perbatasan itu yang disebut Tugu Telon yang ada kaitannya dengan tokoh tokoh dulu sejaman dengan Sunan Kudus.

Selanjutnya dengan berbagai pertimbangan agar tidak terjadi saling klaim akhirnya diatas tanah tersebut didirikan sebuah Musholla yang di beri nama Nurul Huda. Adapun tempat berdirinya masih menggunakan nama Tugu Telon . Sedangkan jamaah yang melakukan kegiatan peribadahan di tempat itu adalah tiga warga desa diatas,

Mbah Jamhari ta’mir Musholla Nurul Huda Tugu Telon pada kabarseputarmuria mengatakan , musholla itu didirikan sudah lebih 30 tahun . Berawal dari kecil dan terus berkembang hingga saat ini. Sehingga Musholla tersebut berdiri diatas tiga desa dan tiga kecamatan.

“ Untuk batasnya ada di dalam musholla dan diberi tanda khusus berupa keramik kecil berbentuk layang layang berwarna biru laut. Keramik itu menunjukkan dahulu Tugu Telon berada sejak jaman dahulu hingga saat ini “, kata Mbah Jamhari .

Menurut Mbah Jamhari Musholla Nurul Huda Tugu Telon ini sebagai simbul kerukunan tiga warga desa dan tiga kecamatan. Meskipun mereka warga desa yang berbeda namun jika shalat jamaah 5 waktu dalam satu musholla. Hal itu dijalani sejak dulu hingga kini

Adapun lokasi Musholla saat  ini sudah berada di tengah pemukiman warga . Dipinggir jalan Ganesa Raya yang berawal dari pasar Jember. Sehingga bagi pengendara yang dari Barat sesampainya di Pasar Jember belok kanan. Sedangkan dari dalam kota sesampainya pasar Jember belok kiri masuk Jl. Ganesa Raya.

Itulah salah satu keunikan Musholla Nurul Huda Tugu Telon Kudus . Bagi anda yang ingin mengunjungi musholla ini bisa langsung datang . Melihat kondisi dari dekat musholla yang punya nilai sejarah tempatnya. Dengan melihat keramik warna biru bentuk layang layang di dalam musholla. (Pak Muin)