Jepara – Musim kemarau yang bergeser pada tahun 2025 membuat petambak garam di Jepara kesulitan memproduksi garam. Sehingga ketika mulai panen di ganggu oleh hujan yang masih menguyuyus sehingga waktu tunggu kembali pungut garam mundur .
Tidak itu saja kualitas garam juga turun seiring bercampurnya air hujan dan air asin di meja kritalisasi. Garam yang awalnya berwarnah putih cerah setelah hujan kembali ada campuran warna kuning dari air hujan yang bercampur debu masuk ke meja kristalisasi.
Sokhib petambak dari desa Kalianyar kecamatan Kedung mengatakan , hujan ditengah panen garam membuat kualitas garam turun. Namun untuk harga garam biasanya stabil atau malah cenderung naik . Apalagi jika waktu tunggu panen garam lama harga terus melambung.
Sokhib menambahkan saat ini belum ada patokan harga garam krosok yang diproduksi oleh rakyat. Harga masih dikendalikan oleh pasar berdasarkan pasokan garam di lapangan. Jika pasokan garam berkurang harga terus melejit naik.
“ Namun jika panen bersamaan dalam suatu waktu sehingga stok garam berlimpah . Harga pasti turun perlahan lahan hingga menyentuh angka terbawah jika produksi garam sudah berlebihan. Pernah menyentuh harga Rp 300 rupiah perkiloanya “, tambah Sokhib.
Harga garam juga pernah menyentuh Rp 3.000 perkilonya ketika stok garam minim atau musim kemarau pendek . Namun dalam kondisi harga garam tidak semua petambak merasakan kenaikan harga tersebut . Justru pengepul atau penimbun yang mendapat untung besar.
Rp 600 perkilo
Sokhib menambahkan terkait harga kekinian garam atau BEP dalam istilah bisnisnya . BEP garam saat ini adalah Rp 600 perkilogram. Modal produksi garam meliputi sewa lahan , peralatan dan tenaga kerja . untuk sewa lahan saat ini sekitar 10 juta perbau (7.500 m2) , Sedangkan untuk tenaga kerja sekitar 6 bulan .
Sedangkan peralatan misalnya geomembrane atau plastic hitam pelapis meja kristalisasi . Selain itu masih ada peralatan lain seperti kincir angin , mesin pompa , waring dan gubung berteduh. Dari 1 hektar lahan garam yang ia jalani dengan hasil yang didapatkan ketemu Rp 600 perkilo agar kembali modal
“ Untuk lahan 1 hektar lahan sewa perhektarnya Rp 10 jutaan , peralatan Rp 15 jutaan , Tenaga kerja Rp 15 jutaan ketemu Rp 40 jutaan . Perolehan garam paling sedikit 80 ton kalau harga perkilonya Rp 600 hasil semua Rp 48 juta . Masih dapat untung 8 juta setahunnya . Jadi kalau harga dibawah Rp 600 ya bisa rugi “ jelas Sokhib. ( Pak Muin )