Jepara – Sebelum kabupaten Demak ramai membahas masalah abrasi dan rob . Sebenarnya kabupaten Jepara sudah dahulu mengalami hal yang sama . Namun karena kebijakan pemerintah pada waktu itu cepat dan tanggap . Permasalahan abrasi terkait pemukiman relokasi untuk warga selesai dengan baik ,
Desa yang dahulu bernama Bulak kini berubah Bulak Baru karena bertempat di lahan baru. Yaitu area persawahan desa Bugel kecamatan Kedung . Relokasi itu sekitar tahun 1981 ketika itu Jawa Tengah dipimpin gubernur Soeparjo Roestam . Earga desa Bulak pindah ke desa Bulak Baru hingga kini.
Desa Bulak yang dahulu benar benar telah hilang menjadi laut karena hempasan ombak besar. Dahulu desa Bulak merupakan pemukiman nelayan yang cukup padat penduduk. Ada jalan raya di tengah desa . Jalan itu jalan yang menghubungkan antara desa Kedungmalang ke Jepara lewat desa Semat .
“Jalan itu dulu menurut cerita juga pernah dilewati Bung Karno pada saat mau ziarah ke Makam Mantingan. Bahkan menurut cerita daerah itu juga pernah dibuat lubang-lubang untuk menghalau tentara Sekutu ketika Jepang ingin aman di daerah Jepara,” Somad Abduh warga desa Bulak Baru pada Nur Faizah wartawan Beta News Rabu (16/8/2023)
Somad Abduh mengatakan , Pemukiman warga Warga Desa Bulak Baru, Kecamatan Kedung saat ini , jadi saksi hilangnya sebuah desa akibat ditelan abrasi di Jepara. Warga harus direlokasi ke tempat baru karena area desa terus terkikis air laut dan kini sudah jadi laut dan tambak. Kinipun setiap waktu laut makin mendekati pemukiman warga.
“Relokasi pertama itu tahun 1971, ada angin ribut. Saya masih kecil waktu itu, kemudian sepuluh tahun kemudian di tahun 1981 mulai relokasi ke wilayah Bugel. Yang tadinya Desa Bulak jadi Bulak Baru, karena wilayah yang ditempati itu miliknya orang Bugel,” katanya
Somad bercerita, dulunya Desa Bulak memiliki wilayah daratan yang sejajar dengan Kampus Undip yang berada di Desa Teluk Awur pada saat Indonesia masih dikuasai oleh Belanda. Kemudian daratan tersebut mulai terkikis secara perlahan akibat abrasi. Bahkan di tahun 1945, menurut Somad juga masih terdapat jalan yang bisa dilewati mulai dari depan Pasar Semat sampai wilayah Kedung.
Warga Desa Bulak dulunya, menurut Somad, juga dikenal sebagai masyarakat yang tersohor. Dengan kekayaan hasil alam yang dimiliki, warga Desa Bulak bahkan memiliki kereta kencana yang sering dipinjamkan kepada masyarakat desa lain.
“Leluhur Desa Bulak itu dulu dikenal pemberani, sering disebut bajak laut lah. Karena kalau ada perahu yang datang ke wilayah Bulak itu sering dihadang. Nah, mereka dulu sembunyinya di Pulau Bokor, sekarang sudah hilang juga,” ujarnya
Kini setelah 44 tahun setelah tsunami kecil yang menghilangkan Desa Bulak, menurut Somad, banyak warga yang masih memiliki ketakutan akan terjadinya kembali abrasi di Desa Bulak Baru. Sebab, setiap tahunnya wilayah pesisir Desa Bulak Baru juga mengalami penurunan akibat abrasi.
Bupati Jepara Witiarso Utomo secara khusus datang langsung di Desa Menganti, Kecamatan Kedung yang berada di wilayah pesisir. Selama sehari, Witiarso pun rela ‘Ngantor di Desa’ Menganti pada Selasa (17/6/2025).
Ancaman abrasi menjadi prioritas utama di Kabupaten Jepara. Dari identifikasi dan pemantauan yang dilakukan, ada enam desa yang rawan tenggelam akibat abrasi. Desa tersebut adalah Desa Tanggultlare, Kalianyar, Panggung hingga Bulak Baru.
Witiarso mengaku segera mengajukan bantuan ke pemerintah pusat agar ada perhatian khusus dalam penanganan abrasi di wilayah pesisir Jepara. Pihaknya membutuhkan sabuk pengaman pantai, agar dua desa tersebut tidak hilang digerus abrasi.
Witiarso menyebut bahwa usulan pembangunan sea wall atau tanggul laut hingga wilayah Jepara, juga diusulkan terkait penanganan abrasi. Pihaknya berharap Pemerintah Pusat segera merealisasikannya oleh pemerintah pusat.