Demak – Sebagai seorang wiraswasta harus bermodal tekun dan berani selain itu juga tak malu. Hal itulah yang dijalankan Hajir warga desa Mutih Wetan kecamatan Wedung kabupaten Demak. Meskipun ia sudah punya usaha tetap membuka warung tenda namun ia tetap jualan keliling di waktu selanya.
“ Kalau sore sampai malam nunggu warung ayam goreng . Kalau pagi habis subuh keliling saya jualan ayam goreng seperti ini murah meriah Rp 10 ribu dapat 3 “, kata pak Hajir pada kabarseputarmuria Kamis 19/6/2025
Pak Hajir sebelum usaha ayam goreng pernah merantau ke Kalimantan jualan pakaian. Ia mengambil dagangan di pasar Tegal Gubug kemudian di jual di pasar Banjarmsin Kalimantan . Usahanya jalan terus sampai Indonesia terkena krismon (krisis moneter) . Suasana sepi iapun pulang kampung.
Nah setelah pulang kampung itulah ia banting uasaha buka warung tenda pinggir jalan yaitu ayam goreng. Ia buka awal di Jepara dan usahanya ketika itu lancar meski baru buka. Warungnya selalu ramai sehingga ia bisa menghidupi keluarga dengan membuka warung.
“ Saya alami sen diri entah memang rejeki saya atau bagaimana . Meski di sana sana krisis tapi Jepara justru ramai mungkin karena ekspor mebel jalan. Sehingga nilai uang dollar jadi banyak sehingga upah tukang pada waktu itu juga tinggi”, cerita Pak Hajir.
Setelah usaha warung ayam gorengnya di Jepara berkembang iapun membuka cabang lagi di dua tempat satunya ada di Kalipucang. Ia tidak mungkin menangani sendiri sehinga iapun mencari tenaga. Namun karena situasi ekonomi sekarang yang tidak begitu ramai . Usaha yang penting jalan meski keuntungan kecil.
“ Yang namanya usaha ya naik turun. Seperti jualan ayam goreng keliling ini. Kadang laku banyak ya kadang masih ada. Saya jalanilah dengan senang hati. Rejeki ada yang ngatur ,yang penting kita ihtiar bekerja “, tambah pak Hajir.
Pentingkan Pedidikan Anak
Terkait pendidikan anak Pak Hajir menomorsatukan meski keluar biaya banyak tak masalah. Anak sulungnys ia biayai kuliah secara mandiri di Unnes sampai lulus. Sedangkan anak keduanya kini masih kuliah di UIN Walisongo Semarang juga biaya sendiri tidak beasiswa.
Ia mempunyai harapan anak-anaknya kelak menjadi orang yang berhasil dan berguna. Ia dulu selepas belajar di MA Darul Ulum Purwogondo berkeinginan kuliah. Namun pada waktu itu tak kesampaian karena tidak ada biaya. Iapun tak memaksa untuk tetap kuliah ia akhirnya mondok di Sarang.
Hal itulah yang mendorong kini ia mementingkan pendidikan anaknya .Harapannya ketiga anaknya bisa meraih sarjana semua . Ia berharap dengan pendidikan yang baik kelak mempunyai penghidupan yang baik pula.
“ Alhamdulillah meski keliling jual ayam goreng. Putra nomor satu jadi dosen di IAIN Kudus, yang kedua Kuliah di UIN Walisongo Semarang Semester 4 dan yang kecil masih duduk di kelas 3 . Harapan saya anak ke 3 ini juga kuliah kedepannya “, kata Pak Hajir menutup sua. (Pak Muin)