Jepara – Salah satu desa di Jepara yang menjadi sentral usaha pembuatan ikan kering adalah desa Kedungmalang kecamatan Kedung. Salah satu produk ikan kering ini adalah ikan teri kepal atau tempong.Ikan teri aneka jenis dibentuk dengan cara dikepal dengan tangan.
Di desa ini ada beberapa warga yang mempunyai usaha pembuatan ikan teri kepal atau tempong.
Salah satunya adalah pak Wondo yang rumahnya dipinggir jalan raya Kedungmalang-Pecangaan. Ia lebih 20 tahun menekuni usaha ini dengan penuh suka duka.
Saat di temui kabarseputarmuria Kamis 13/03/2025 pak Wondo sedang menjemur ikan teri kepal ini. Ia baru produksi beberapa hari ini karena sebelumnya hujan mengguyur setiap hari di musim hujan. Ikan teri kepal ditempatkan di wadah segi empat lalu di jemur diteriknya matahari.
“ Kalau dihitung ya hampir 4 bulan ini saya tidak produksi membuat tempong . Cuaca hujan terus namun penjualan terus jalan kaena masih ada stok banyask di rumah sisa sisa penjemuran di musim kemarau”, kata pak Wondo.
Membuat tempong ini butuh panas sehingga kalau dipaksakan membuat banyak hujan dipastikan merugi. Beberapa hari ini ketika ada panas sedikit ia mencoba kulakan teri unuk dibuat tempong . Namun karena kehujanan terus akhir gagal produk dan harus dibuang.
“ Ya beberapa hari yang lalu pernah membuang produk yang setengah jadi. Namun karena tidak bisa diselamatkan ya terpaksa saya buang. Kalau dihitung ya sekitar Rp 1, 2 juta terbuang sia sia “, cerita pak Wondo
Pembuatan tempong dan ikan asin yang ditekuninya ini membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga terdekat. Jika pas bahan baku banyak tenaga yang cetak tepong ini bisa sampai 10 orang, Namun jika pembuatan normal 4-5 orang dengan system borong perpapan. 1 papan Rp 5.000.
“ Kalau tenaga sendiri tak mampu kita borongkan kepada tetangga terdekat . Biasanya ibu ibu sekali duduk sambil ngobrol bisa bawa pulang uang Rp 50.000 karena bisa cetak tempong hingga 10 papan “, kata pak Wondo.
Untuk harga tempong saat ini sudah mulai normal karena beberapa usaha mulai produksi lagi . Satu bungkus denga isi 120 kepel harganya Rp 60 ribu . Sedangkan untuk teri kering urai harga perkilonya sekitar 130 ribuan. Jika musim hujan harga tempong biasanya naik 10 hingga 20 persen.
Usaha pembuatan tempong pak Wondo ini usai tanggul SWD 2 di renovasi masih ada di lereng tanggul. Namun demikian ia selalu menjaga kebersihan baik bahan baku dan proses pengolahannya. Penjemuran tempong diatas papan papan yang dibuatkan kaki kaki meja tidak menyentuh tanah.
“ Ini tempat penjemuran sementara di lereng tanggul SWD 2. Nanti kita akan pindah di bawah tanggul sehingga lebih leluasa seperti dulu lagi . Selain itu tidak menggannggu jalan raya “, kata pak Wondo menutup sua. ( Pak Muin )
