Demak -– Mahasiswa KKN Reguler 86 UIN Walisongo Semarang Posko 23 Desa Jungsemi mengadakan kegiatan penyuluhan digitalisasi keuangan sekaligus pendampingan pembuatan QRIS bagi para pelaku UMKM di Desa Jungsemi, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Senin (25/05/2026).
Program tersebut dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap perkembangan usaha masyarakat desa agar mampu mengikuti perubahan sistem pembayaran yang kini semakin praktis dan berbasis digital.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN mengenalkan QRIS sebagai metode pembayaran yang dapat digunakan untuk berbagai jenis transaksi hanya melalui satu kode pemindaian. Selain pemberian materi, masyarakat juga dibimbing secara langsung mulai dari proses pendaftaran hingga penggunaan QRIS dalam kegiatan jual beli sehari-hari.
Mahasiswa KKN menjelaskan bahwa penggunaan pembayaran digital dapat membantu pelaku usaha menjadi lebih efisien dan mempermudah pelanggan saat bertransaksi.
“Sekarang masyarakat sudah mulai terbiasa menggunakan pembayaran non-tunai. Karena itu kami ingin UMKM di Desa Jungsemi juga dapat memanfaatkan teknologi ini agar usaha mereka semakin berkembang,” ujar salah satu mahasiswa KKN.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Banyak pelaku usaha yang merasa terbantu karena sebelumnya belum memahami cara membuat QRIS maupun penggunaan pembayaran digital untuk usaha mereka.
Selain mempermudah transaksi, mahasiswa juga menjelaskan bahwa QRIS dapat membantu pelaku usaha mencatat pemasukan dengan lebih rapi dan praktis dibandingkan hanya mengandalkan transaksi tunai.
Koordinator Desa (Kordes) KKN Posko 23 Desa Jungsemi, Adit, menjelaskan bahwa program pendampingan QRIS merupakan salah satu upaya mahasiswa untuk mendorong transformasi ekonomi digital di tingkat desa.
“Melalui pendampingan pembuatan QRIS ini, kami berharap pelaku UMKM di Desa Jungsemi dapat lebih siap menghadapi perkembangan teknologi keuangan. QRIS bukan hanya mempermudah transaksi, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau lebih banyak konsumen dan meningkatkan daya saing usahanya,” ujar Adit selaku Kordes KKN Posko 23 Desa Jungsemi.
Salah satu pemilik usaha mengaku tertarik menggunakan QRIS karena dinilai lebih sederhana dan tidak perlu repot menyediakan uang kembalian saat berjualan.
“Kalau pembeli bayar pakai e-wallet sekarang tinggal scan saja. Jadi lebih cepat dan praktis,” ungkapnya.
Sementara itu, Adit menambahkan bahwa digitalisasi keuangan merupakan langkah penting untuk membangun ekosistem usaha yang lebih modern di lingkungan masyarakat desa.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung perkembangan usaha dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 23 berharap masyarakat Desa Jungsemi semakin terbuka terhadap perkembangan teknologi, khususnya dalam bidang keuangan digital. Kehadiran QRIS diharapkan dapat membantu UMKM desa menjadi lebih modern, adaptif, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman