Demak – Musim kemarau telah dirasakan warga pesisir desa Kedungmutih kecamatan Wedung. Petambak garam mulai turun membenahi lahan garam untuk produksi garam kembali. Tambak yang biasanya sepi mulai ramai dari pagi hari hingga sore hari.
Dengan dimulainya produksi garam inilah membuat harga garam terus turun sehingga petambak yang mempunyai simpanan garam banyak yang menjual ke para pengepul. Meskipun stok tidak begitu banyak. Namun dibayangi oleh panen kembali membuat mereka kejatuhan harga yang lebih banyak.
Rofiq Nur Fadlan salah satu petambak garam yang dihubungi kabarseputarmuria mengatakan , simpanan garam dengan jumlah tidak begitu banyak terpaksa dijual. Ia takut harga terus turun sehingga membuat kerugian yang lebih besar. Iapun kini sudah mulai persiapan membuat garam.
“ Inginnya sih terus di simpan menunggu harga naik kembali tetapi kelihatnnya makin turun karena sebentar lagi panen . Jadi mau tidak mau ya saya jual nanti diisi kembali diisi kalu sudaha panen lagi. Begitulah harga garam kalau stok sedikit ya maham . Kalau stok banyak ya turun”, kata Rofik yang juga guru SD. Kamis 7/5/2026
Rofiq yang sejak kecil belajar memproduksi garam menambahkan, dalam tahun lalu ia sempat menjual garam di harga Rp 250 ribu perkwintalnya timbang di gudang. Namun usai panen harga tidk naik namun terus turun hingga ia menjual garamnya dua hari yang lalu Rp 160 ribu perkwintalnya.
“ Ini malah ada info harga hari ini harga garam kembali turun di kisaran Rp 130 perkwintal timbang di gudang. Padahal hari ini masih ada hujan dan petambak belum ada yang panen , Kalau nanti panen raya kemungkinan harga garam bisa kembali Rp 50 ribu atau bahkan bisa kurang lagi “, katanya lagi.
Hal sama dikatakan Hamzawi Anwar pengepul garam dari desa Kedungmutih, harga garam memang bisa naik atau turun tidak terkendal;I tergantung kebtuhan dan stok. Kalau stok di lapangan masih banyak tidak ada permintaan harga dipastikan turun. Tetapi sebaliknya jika kebutuhan banyak harga juga kembali bisa naik lagi.
“ Perdagangan garam memang harus tahan banting ketika haraga murah ya dijual murah ,Kalau belinya mahal juga dijual mahal. Namun kadang petambak tidak mau hal seperti itu. Kalau sudah pernah tinggi majunya di beli harga tinggi “, kata Hamzawi.
Untuk harga saat ini ia beli dari petani KW 1 berkisar Rp 190 ribu perkwintal timbang gudang. Untuk KW 2 Rp 160 ribuan . Harga itu menurutnya bisa naik atau turun dalam kurun waktu harian . Hal itu karena tidak ada harga standart seperti komuditas pertanian seperti beras ,jagung dan lainnya. (Pak Muin)