Demak – Meski Politik uang dalam Pilkades dilarang , namun realita dilapangan sebaliknya. Justru calon yang memberikaa uang sangu atau amplop banyak , kenyataannya banyak yang jadi. Sehingga dengan cara apapun politik uang dalam ajang pilkades tidak bisa dihilangkan meski ada larangan.

Sehingga meski dilarang aksi bagi-bagi uang dan barang oleh tim sukses ataupun calon tetap berjalan. Sehingga sebelum terjun di arena pilkades calon harus menghitung berapa uang yang disiapkan  untuk nyangoni pemilih.

Banyak dari peminat calon yang harus mundur teratur karena ketidaksiapan uang. Meskipun saat ini swadaya dari calon untuk pelaksanaan Pilkades sudah tidak ada lagi. Justru hal ini dibuat pemilih untuk lebih memeras calon.

Dari informasi yang didapatkan media ini dari salah satu desa yang menggelat Pilkades hari Minggu kemarin. Ada calon yang menyiapkan uang persuara atau hak pilih sebesar Rp 500 ribu. Jika ia membidik 1.000 pemilih maka uang yang disiapkan sebesar Rp 500 juta.

Uang tersebut biasanya adalah simpanan si calon sendiri , namun banyak pula yang merupakan uang pinjaman. Misalnya pinjam Bank, Koperasi sampai dengan perorangan. Mereka semua berharap jadi , jika jadi mereka bisa membayarnya dari penjualan bengkok.

Celakanya jika uang penjualan bengkok tersebut masih kurang atau masih ada pinjaman yang belum terbayar. Ujung-ujungnya jika karakternya kurang bagus mereka akan menyelewengkan uang desa. Entah ADD , DD , PAD atau uang desa lainnya. Biasanya mereka bekerjasama dengan perangkat dan lembaga desa.

Banyak kasus penyelewengan uang Desa yang dilakukan oleh kepala desa karena masih kentalnya politik uang di pilkades. Untuk bisa menjadi kepala desa membutuhkan uang yang cukup besar . Jika tidak punya pasti akan pinjam  setelah jadi mereka akan ditagih untuk mengembalikan . Nah jika tidak ada mereka pasti mata gelap samber sana samber sini.

Nah itulah yang harus kita evaluasi bersama . Bagaimana caranya merubah kebiasaan bagi-bagi uang di ajang pilkades ini. Selama masih ada politik uang maka sulit mendapatkan pemimpin desa yang baik dan mampu membangun desanya. Inilah yang harus kita pikirkan bersama. (Muin)