Kudus – Penyusunan dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal) pembangunan pabrik semen PT Sahabat Mulia Sakti (PT SMS) di Kabupaten Pati Jateng diduga bermasalah karena tak sesuai realitas. Dokumen Amdal tak ada lubang aliran air (ponor), padahal ada, hanya ada 10 titik mata air, padahal lebih dari 20 titik, masyarakat dianggap setuju rencana pembangunan pabrik semen, padahal semuanya menolak disertai tanda tangan yang diserahkan pada Kementerian Lingkungan Hidup sebelum terbit amdal.

Hal ini dinyatakan seorang warga Samin yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPKK) dari Pati dalam sidang lanjutan gugatan izin pendirian di PTUN.

Menurut Moh.Rosyid, peneliti Samin dan pemerhati sejarah dari STAIN Kudus, kesaksian dihadapkan dua konsekuensi (akibat). Bila benar di depan hukum maka perjuangan menyelamatkan kawasan Kendeng menjadi realitas. Tetapi, bila kesaksiannya salah, yang menderita cercaan publik adalah semua komunitas Samin, meski tak semua wong Samin menolak pendirian pabrik semen.

Mengapa? tak semua warga Samin di Blora, Pati, dan Kudus Jateng sepakat dengan gerakan penolakan karena penafsiran ajaran. Lagi pula, gerakan penolakan Samin tak mewakili semua elemen Samin di tiga wilayah kabupaten. Hal ini terjadi karena tidak adanya kepemimpinan tunggal. Lanjut Rosyid, dipilihnya tokoh dalam Samin bukan atas insiatif diri, tapi hasil pendadaran alamiah dengan ciri sosok yang tangguh, tanggon, dapat dipercaya, berkarakter juwomo, dan tempat bertanya dalam hal ajaran Samin untuk kehidupan. Dengan demikian, sosok yang ditokohkan tidak memproklamirkan diri tapi hasil seleksi alamiah, bebas ambisi.